MERINDUNYA
Du niaku seperti kelopak mawar yang seakan menjadi pondasi bagi sang bunga. Dari kejauhan semestinya tampak lebih mentereng, namun duniaku lebih tenggelam tertutupi oleh indahnya mawar. Semenjak aku sendiri, tak punya tambatan hati, tak punya teman dekat, duniaku seolah meredup. Semangat juangku kadang timbul dan kadang tenggelam, tak konsisten. Ku jalani hari-hariku dengan tersenyum kepada saipapun untuk menghibur hatiku yang kadang kala merasakan suatu kerinduan yang hebat untuk memiliki seorang kekasih. Sebuah nama yang masih tersimpan dalam hati ini belum bisa ku hilangkan, masih mengendap dalam derasnya arus kerinduan. Kadangkala hati merintih merindunya, bertanya-tanya bagaimana kabarnya, sedang apa disana?. Kerinduan itu yang kadang melemahkan perasaanku. Ketika mata tak lagi bertatap, ketika raga tak lagi mampu bersua, ketika lidah tak lagi saling menyapa, dia seolah tak lagi mengenalku sebagaimana dahulu. Sisa-sisa kenangan yang sidikit tersimpan di memory kadangkala memb...