LANGKAH-LANGKAH LIAR
Perlahan kutelusuri jejak tanpa batas, sedikit demi sedikit terus tergerus oleh pergeseran waktu. Bait-bait cinta yang dulu bertabur bunga telah layu termakan usia, lapuk dan merangas bak pohon dimusim kemarau. Bulir-bulir rindu yang dulu merdu pun seolah tak lagi terdengar, hanya tangisan pilu yang merambah disela jemari yang kian keriput. Bayangan demi bayangan terus mengelabui hati yang kosong, semerdu nyanyian jiwa yang mengalun bertalu-talu dibalik pepohonan. Tak heran, meski raga sudah tak lagi muda, meski badan sudah tak lagi bertenaga, meski wajah tak lagi rupawan, dan rambut kian memutih, tapi semangatnya tak pernah pupus, tak pernah goyah tertiup angin, tak pernah retak terhantam badai, tak pernah surut meski dimusim kemarau. Aku kagum, aku salut. Langkah-langkah liar itu terus menggerogoti pikiranya yang mulai menua, dan kelicikannya terus mengelabui orang tua yang sebentar lagi tak bernyawa. picik dan licik. Aku hanya bisa melindunginya sekuat tenagaku, semampu k...