AKU DAN DUNIAKU


Aku mengitari jejal langkahku, menitikan bekas yang terlalu sulit untuk kuhapus. Diantara rerumputan itu, ku letakkan sedikit sisa asaku agar kembali normal, yang sekian lama terasa down karena masalah itu. Masih sama seperti saat aku menginjakkan kaki dibumi, duniaku terasa sempit.

Berulang kali aku membuka mata, melihat seluruhnya isi dunia, namun tetap saja duniaku terasa sempit. aku seperti dalam bayang-bayang kelam yang terus membawaku tenggelam. Dinding-dinding kekuatanku tlah musnah ditelan sang waktu. Sisa asaku tak kuat lagi untuk aku berjuang. kini semua itu seolah tak ada lagi artinya dikala aku jatuh terjerembab dalam jurang yang teramat dalam, aku tak mampu bangkit menggelorakan semangatku lagi.

Ya Tuhan.....
Aku memang lemah, tak sekuat teriakanku pada orang lain agar kuat menghjadapi segala ujianmu. aku terlalu lemah untuk menghadapi semuanya.

Saat mataku terbuka, melihat seluruh sudut dunia, masih kurasakan sesak didadaku. Kadang aku merasa bahagia saat ada didekatmu, namun kadang aku merasa tersiksa ketika aku tak bisa memilikimu seutuhnya, selamanya. Duniaku terasa sempit kerena aku tak bisa memiliki orang yang sangat aku cintai, yang sangat aku sayangi selamanya. Meskipun kini dia bersamaku, namun dia bukan milikku.

Aku menyadari itu, namun aku tak mampu lari darinya, tak mampu berpaling darinya. Sejauh mana hubungan itu akan terikat, sejauh itu pula kepedihanku akan terasa. Aku seperti menggenggam buih, saat ku genggam erat buih itu, maka buih itu akan pecah, namun bila buih itu kulepaskan, buik itu akan terombang ambing oleh ketidakpastian angin yang membawanya pergi, dan diapun akan menderita kerena tak memiliki sandaran. Aku berada diposisi yang serba salah.

Andai aku bisa sedikit melepas perasaanku, mungkin aku tak akan merasakan sesuatu itu. Aku memang harus belajar merelakan, belajar melepas, belajar mengurangi rasa cintaku padanya. Agar aku tak terus-menerus tersiksa.

Setiap aku menatap dunia, seakan dunia ingin menguburku hidup-hidup. saat aku menatap langit, seolah langit ingin menelanku bulat-bulat. Aku bercrita pada malam tentang semua perasaanku, namun malam menertawakanku. aku bercerita pada bulan, namun bulan menatapku dengan sinis. aku bercerita pada bintang, dan bintang mendengarkan curhatku, namun tak cukup membantuku, karena bintang keburu diselimuto sang awan yang sangat membenciku.

Aku dan duniaku sepertinya akan habis, saat cinta tak bisa kumiliki lagi, saat rindu tak bisa berlabuh, saat sayang tak bisa kuberika pada dia yang aku kagumi. Duniaku lambat laun akan termakan oleh kejamnya takdir. aku tak dapat berbuat sesuatu, aku pasrah apa adanya, dan ku syukuri semua ini penuh arti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo