Peramal Itu Bernama Jumbo

Dalam sebuah cerita yang telah usang, kutarik sedikit pelajaran hidup yang terkandung didalamnya.

Ada sebuah kisah yang telah lama terjadi dan sudah terasa kadaluwarsa. Ini ceritaku, sebuah drama percintaan ala anak abege yang masih labil yang belum menemukan jati dirinya.

Bermula dari ujian SNMPTN.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah, aku memang tidak langsung melanjutkan studiku. Tetapi mengabdi dulu untuk membantu mengajardi Madrasah Ibtidaiyah. Selama satu tahun aku menghabiskan waktu sebagai tenaga pendidik suka rela.

Aku juga sadar, dalam menjalankan aktivitas harian ku mengajar, aku bukanlah seorang yang memiliki banyak ilmu. Tapi setidaknya aku bisa mengamalkan ilmu yang telah kudapat selama 12 tahun.

Singkat kata, setelah selesai masa pengabdianku, aku memutuskan untuk melanjutkan studi. Kupilih Perguruan Tinggi Negri favorit di kota ku.

Aku melakukan perjalanan yang lumayan jauh dari tempat asalku dipelosok negri. Dengan perjalanan menggunakan Speed boat kurang lebih dua jam perjalanan menuju Kota.

Dengan beberapa sahabatku yang juga akan melajutkan studi, aku mendaftar ke PTN untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Aku memilih  IPS karena jurusan yang ku pilih berkaitan dengan IPS. Pilihan pertama aku Mengambil Sosiologi fakultas Sospol, sedangkan pilihan kedua aku mengambil Bahasa Indonesia fakultas Sastra.

Dua sahabatku mengambil jurusan yang sama yaitu pendidikan olah raga fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP). Keduanya memang hobi olah raga, dan juga ingin menjadi guru olah raga nantinya.

Hari ujian pun dilangsungkan. Kami mendapat tempat ujian dan waktu yang sama yaitu di SMAN 1 kotamadya.

Pagi itu, sebelum aku dan dua sahabatku mengikuti ujian, kusempatkan makan pempek sepeda yang mangkal di depan SMA 1. Masih ada waktu setengah jam sebelum ujian sesi pertama dimulai. Kami memang dapat waktu ujian yang sama di sesi pertama

"Nak melok ujian masok UNSRI ya dek?". Abang penjual pempek dengan logat Melayu khas Palembang bertanya kepada kami yang sedang asyik menikmati pempek.

"Iya bang, dapat sesi pertama ini". Jawab Aat, sahabatku sambil menyeruput cuka pempek.

"Kalo kujingok kalian bertiga, gek yang lulus ujian tahap ini kau lah dek", kata Abang penjual pempek menunjukku.

"Abang ni sok tau. Ujian jugo belum dimulai, la nebak-nebak cak peramal". Kataku sambil terus mengunyah pempek yang pagi itu terasa nikmat. Karena memang sejak bangun tidur perutku belum diisi apa-apa.

"Apo dasarnyo Abang pacak nebak cak itu?" Tanya Abeng sahabatku lainya yang masih tidak percaya omongan Abang penjual pempek, sambil memilih pempek yang akan dilahapnya. Sepertinya Abeng sudah habis 5 buah pempek dan belum ada tanda-tanda mau berhenti.

"Jingoklah agek. Mun omonganku benar cari lagi aku disini", Abang masih meyakinkan kami dengan pede nya.

"Oke lah bang, do'ake kami lulus galo, jangan Dio Bae. Berapo galonyo?", Abeng  menunjukku sambil mengeluarkan uang lembaran lima puluh ribu untuk membayar pempek yang kami makan bertiga.

"Sepuluh ribu dek. Iyo, sukses Galo Yo ujianyo, semangat",  Abang penjual pempek menerima uang dari Abeng kemudian meberikan kembalian dua lembar uang dua puluh ribuan.

Kami tersenyum kepada Abang penjual pempek, dia pun membalas senyum kami.

Ku lihat jam menunjukkan pukul 07.50, artinya sepuluh menit lagi sesi pertama dimulai. Kami bergegas masuk ke lingkungan sekolah, mencari ruang kelas XII B tempat kami ujian. Ternyata peserta lain sudah berada diposisi tempat duduk masing-masing. Kami bertiga paling terakhir.

Ruang kelas itu berisi dua puluh lima peserta. Terdiri dari 25 singel chair, empat baris ke kanan, enam baris ke belakang. Aku duduk di baris paling pinggir sebalah kanan, kursi nomor dua dari depan. Sementara Abeng di baris kedua dari kanan kursi nomor empat dari depan, dan Aat di baris paling kiri kursi paling depan.

Sebelum ujian dimulai aku sempat ngobrol dengan peserta dibelakang ku. Gadis imut dengan rambut kuncir kuda dan berkacamata. Tanpa berkenalan lebih dulu aku bertanya ambil jurusan apa. Dia hanya tersenyum kecil dan menjawab pelan "teknik sipil".

Sementara aku hanya manggut-manggut, sedikit kagum ada cewek ambil jurusan teknik sipil. Aku tau namanya Dinda Arista dari nametag yang menempel disaku baju nya.  Aku dan Dinda memang tak berkenalan. Hanya ngobrol sok akrab saja sambil menunggu petugas ujian.

Tak lama petugas pengawas ujian masuk dengan membawa lembar soal. Aku menerima lembar soal itu dengan hati masih was-was. "Kira-kira seperti apa soal ujian itu, apa aku bisa mengerjakan atau malah tidak mengerti sama sekali?". Pikiranku melayang jauh memikirkan hal yang seharusnya tak ku pikirkan.

Tetapi aku masih kepikiran omongan Abang penjual pempek tadi diluar pagar sekolah. Katanya dari kami bertiga aku yang lulus ujian tahap ini. Karna itu, ku buang pikiran was-wasku, ku buang keragu-raguan ku, ku pijak sampai penyet kekhawatiran ku. Aku berseru, "aku pasti bisa !!!" dengan menggenggam erat pena yang ada di jemari tangan ku.

Aku berdo'a sebelum mengerjakan soal ujian. Pena yang ku genggam mulai menari diatas lembar jawaban. Kumulai dari soal Tes Pontensi Akademik (TPA). Sepertinya aku mudah saja aku mengerjakan soal TPA, hanya butuh waktu 15 menit aku selesai mengerjakan soa itu.

Kemudian lanjut ke soal Tes Kompetensi Dasar (TKD). Memang beberapa soal aku kesulitan untuk menyelesaikannya. Beberapa soal pilihan ganda yang memang tidak kumengerti sama sekali, kujawab dengan feeling saja, kira-kira itu lah yang menurutku benar.

Jam 09.30 ujian selesai dilaksanakan. Aku bergegas meletakkan soal dan jawabanku dimeja lalu meninggalkan ruang kelas. petugas pengawas ujian yang mengambil soal dan jawaban dimeja peserta.

Kulihat Aat dan Abeng belum meninggalkan tempat duduk saat aku keluar kelas. Aku menunggu didepan kelas, duduk di kursi teras sekolah. Tak lama mereka berdua keluar ruangan.

"Ngapo lamop nian?" tanyaku pada Aat dan Abeng.

"Kami itu Ado Tes Ketrampilan, makanyo lamo". Jawab Abeng sambil membetulkan posisi tas di punggungnya.

"Ayolah Kito balek" ajak Aat padaku dan Abeng .

Kami bertiga keluar lingkungan sekolah. Abeng pulang dengan motornya, karena dia berangkat naik motor. Sementara aku dan Aat naik angkot. Karena kami memang tidak memiliki kendaraan pribadi.

"Aku duluan Yo, nak jemput kawan Di Benteng". Abeng berseru padaku dan Aat sambil berlalu.

"Ok" seru aku dan Aat bersamaan.

Aku dan Aaat mencari angkot. Tujuan kami adalah ke toko buku Gramedia. Sekedar refres cari buku baru. Kalau aku jelas, ke Gramedia yang kucari pasti novel. Kalo Aat buku yang berkaita dengan olah raga.

***

Aku pulang kampung untuk menenangkan diri. Sambil membantu pekerjaan orang tua sebagai petani. Aku menunggu pengumuman hasil SNMPTN dengan santai. Tak ada target harus lulus, meski aku sangatlah berharap.

Sebenarnya setelah aku ikut ujian SNMPTN, besok nya aku juga mendaftar di perguruan tinggi swasta di kota ku. Daftar, langsung ikut ujian masuk dan langsung pengumuman lulus. Aku mengambil jurusan pendidikan bahasa Indonesia FKIP. Aku berfikiran, untuk cadangan, jaga-jaga kalo di PTN dirldak lulus.

Tetapi ayahku sedikit kecewa karena yang ku ambil pendidikan bahasa Indonesia di PTS. Yah,. Uda terlanjur.

Dua Minggu lamanya aku menunggu pengumuman hasil SNMPTN.

Dalam masa menunggu pengumuman, tak sengaja aku mendapatkan nomor ponsel kawan lama, kawan SD dahulu dari kawan ku juga.

Namanya Wati , mungkin terakhir aku bertemu dengannya saat di acara perkemahan. Dia datang bersama ayahnya, mengunjungi adiknya yang sedang mengikuti ajang perkemahan, saat itu aku jadi panitia DKR di perkemahan itu. Aku menyapanya, bersalaman dan ngobrol sebentar.  Setelah itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya.

Aku menyapanya melalu telpon. Mengenalkan diri bahwa aku lah pemilik nomor misterius yang tak tersimpan di kontak ponselnya.  Sekedar say hello, menyapa dan bergurau serta bercerita tentang masa kecil dulu.

Ternyata Wati juga mengikuti SNMPTN , dan mendapat lokasi ujian ditempat yang sama denganku,. Hanya saja hari nya berbeda.  Dia bercerita jurusan yang diambilnya pendidikan sejarah sebagai pilihan pertama, dan kesenian sebagai pilihan kedua.

Karena sam-sama iku SNMPTN di perguruan tinggi yang sama, aku dan Wati jadi lebih sering berkomunikasi melalui telpon maupun SMS.

"Mas, kalo dapat info pengumuman hasil SNMPTN , tolong lihatkan punyaku juga ya" Wati mengirim SMS padaku sambil memberi nomor pesertanya.

"Iya, nanti sekalian ku cek punya mu.  Kayaknya dua hari lagi keluar pengumuman itu" ku balas SMS Wati.

"Makasih sebelumnya. Aku susah online disini", Wati membalas kembali SMS ku.

"Iya, gampang lah itu" kembali aku membalas.

***

Sore itu aku sedang asyik duduk di teras rumah sambil menikmati segelas kopi. Memainkan ponselku, dan bercakap-cakap dengan Wati melalui pesan SMS .

Ayahku dari dalam rumah membawa sepiring gorengan yang baru diangkat dari penggorengan oleh ibuku. Meletakkan di meja teras dan duduk di sebelahku.

"A' kemaren ayah dapat info dari pak Indro, katanya di Bekasi ada kampus husus kelapa sawit. Katanya setelah lulus kuliah di sana bisa langsung dapat kerja". Ayahku membuka percakapan sore itu Sambil menyalakan sebatang rokok.

Aku tidak langsung menaggapi ayahku. Aku hanya diam, menyimak dalam-dalam ucapan ayahku.

"Kampus apa itu yah?", aku coba sedikit pura-pura tertarik dengan pembicaraan itu.

"Ayah juga belum tau pastinya, tapi di koprasi katanya ada brosurnya. Nanti Ayah minta lah buat kamu baca-baca." Ayahku menjelaskan sambil mengunyah gorengan yang masih hangat.

Aku hanya diam, karena masih fokus membalas SMS dari Wati .

"Belum ada pengumuman hasil ujian di UNSRI ?" Ayahku kembali bertanya karena tak ada tanggapan dariku.

"Belum ya, kayaknya sii besok udabkeluar pengumuman itu. Bisa dilihat di web nya secara online" jawab ku.

"Semoga dapat kabar baik ya aa', Amin" ayahku memberi semangat sambil beranjak dari tempat duduknya.

Aku masih saja fokus pada ponselku. Tak menanggapi ucapan ayahku. Kulihat ayahku pergi menggunakan motornya. Sepertinya akan ke koprasi meminta brosur yang tadi kami bicarakan.

Iseng-iseng aku buka web UNSRI , mencari tau info kalender akademik yang memuat waktu daftar ulang seandainya aku lulus. Kulihat dihalaman depan, sudah diumumkan hasil SNMPTN tahun ini. Ku search nomor peserta ku. Taraaa... Nama ku muncul diantara ratusan calon mahasiswa yang lulus, artinya aku lulus seleksi ini.

Aku senang bukan kepalang. Aku bakalan kuliah di universitas negri yang jadi dambaan setiap pelajar di provinsi ini. Aku memberi tahu ibu kalau aku lolos ujian masuk universitas , ibu juga sangat senang dan bangga padaku.

Aku coba search nomor peserta Wati, dan kulihat hasilnya nama Wati juga ada diantara ratusan calon mahasiswa. Aku segera memberi tahu Wati bahwa aku dan dia sama-sama lulus. Aku telpon Wati, kukabarkan ini langsung padanya . Kedengarannya Wati juga bahagia bukan kepalang.

Setelah aku memberi kabar Wati. Aku memberi kabar Aat dan Abeng untuk segera melihat pengumuman di web.

Tak lama Abeng meneleponku. Memberitahu aku bahwa dia dan Aat tidak lulus. Aku sedikit kecewa, karena dua sahabatku tak lolos tahap ini.

Aku jadi teringat ramalan Abang penjual pempek di depan SMA 1, dia meramal bahwa aku yang akan lulus diantara kami bertiga. Ternyata tepat sekali ramala itu.

Aku masih gak percaya kalau aku benar-benar lulus masuk universitas negri. Seperti mimpi, ya benar seperti mimpi. Saat kawan-kawanku yang ikut SNMPTN tidak lulus, aku lulus.

Aku ingin sekali ke kota untuk bertemu Abang penjual pempek uang meramal kami saat sebelum ujian. Aku hanya ingin bertanya memastikan ramalan dia benar terjadi.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

AKU DAN DUNIAKU