SINDIKAT

Sejauh ini aku masih bimbang menentukan kemana alur cerita ini akan berlanjut, belum ku pastikan apakah aku akan menjadi bagian dari sindikat galau ataukan memutuskan untuk tidak terlibat. Aku masih ragu melangkahkan kaki ini untuk terus majau ataukah berbalik arah, mengingat waktu dan keadaan yang belumlah tepat untuk ku meneruskan sedikit langkah ini lebih maju. Belum terlihatnya tanda-tanda kalau semua keadaan ini lebih baik, hanya sebatas peringatan untuk tetap tenang saja yang ku dengar dari pimpinan rombangan.

Aku mengawali perjalanan ini dengan langkah ragu-ragu. aku masih belum yakin untuk mengikutinya, namun aku tetap berangkat beserta rombangan lain dari berbagai instansi. Hanya aku seorang yang berasal dari negri antah barantah. Tak memiliki cukup pengalaman untuk melakukan perjalanan seekstrem ini, tidak memiliki cukup keberanian dan hanya bermodalkan nekat saja. Aku tak peduli, apapun alasanku, kini aku telah beserta rombongan ini menuju sebuah tempat yang dianggap  sebagai tempat melakukan sindikat besar.

Semua sedang panik, keadaan ini kian genting. Sejak subuh tadi sewaktu aku baru membuka mataku semua rombongan sudah merapikan tenda serta barang bawaan meraka untuk berkemas. Hanya aku yang masih ternyenyak mimpi saat mereka telah bersiap siaga. Aku pun tak peduli karena mereka tak membangunkanku. 

Sebuah tembakan muncul dari kejauhan menjelang subuh. Rohit yang bertugas jaga malam langsung siaga satu, membangunkan yang lain untuk bersiaga. Ketua rombongan menyarankan sebagian lagi berkemas dan sebagian lagi berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Aku ikut berjaga setelah aku terbangun walaupun masih bingun tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Semua telah siap, namun suara tembakan itu kian mendekat. Aku masih tak mengerti. Ketua rombongan hanya mengintruksikan semuanya untuk mengambil senjata bersiap-siaga. 

Aku baru mengerti, itu tembakan ancama dari kelompok lain yang bertentangan dengan kelompokku. mereka mengetahui perjalanan kami, dan mereka menginginkan sesuatu dari kami. Aku tak mengerti, apa yang mereka inginkan. Mereka mengetahui tempat ku bermalam bersama rombongan pasti dari asap perapian yang kami buat untuk menghangatkan badan. 

Sebuah peluru meluncur mengarah padaku, beruntuk hanya mengenai pohon disebelahku, dan aku terkaget bukan kepalang. Ketua rombongan berteriak lantang, "Sembunyi..........!!!!!"
aku sudah berada dibalik pohon yang terkena tembakan tadi, tanganku memegan sebuah laras pendek yang diberikan ketua rombongan padaku untuk berjaga-jaga. Seumur-umur baru kali ini aku memegang senjata, dan akupun tak mengerti cara menggunakannya. Aku hanya tau dari Film-film action yang ku tonton.

 








Bersambung....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU