LANGKAH-LANGKAH LIAR

Perlahan kutelusuri jejak tanpa batas, sedikit demi sedikit terus tergerus oleh pergeseran waktu. Bait-bait cinta yang dulu bertabur bunga telah layu termakan usia, lapuk dan merangas bak pohon dimusim kemarau.

Bulir-bulir rindu yang dulu merdu pun seolah tak lagi terdengar, hanya tangisan pilu yang merambah disela jemari yang kian keriput. Bayangan demi bayangan terus mengelabui hati yang kosong, semerdu nyanyian jiwa yang mengalun bertalu-talu dibalik pepohonan. Tak heran, meski raga sudah tak lagi muda, meski badan sudah tak lagi bertenaga, meski wajah tak lagi rupawan, dan rambut kian memutih, tapi semangatnya tak pernah pupus, tak pernah goyah tertiup angin, tak pernah retak terhantam badai, tak pernah surut meski dimusim kemarau. Aku kagum, aku salut.

Langkah-langkah liar itu terus menggerogoti pikiranya yang mulai menua, dan kelicikannya terus mengelabui orang tua yang sebentar lagi tak bernyawa. picik dan licik. Aku hanya bisa melindunginya sekuat tenagaku, semampu kemampuanku. Orang tua itu kian melemah, menanti hari yang dijanjikan Sang Pencipta untuk kembali. Namun beberapa orang yang rakus itu terus memaksa, memaksa menandatangadi berkas yang tentu tak dimengerti isinya. 

Aku menangis sedih, tak mampu lagi aku melindunginya. tanganku di jerat beberapa orang yang telah berkompromi demi sebuah dunia yang dalam benaknya seperti surga. Semangat orang tua itu tetap keukeuh, tak mempedulikan apapun ancaman itu, karna dia tahu, hidupnya tak lama lagi. Benar saja, beliau menghembuskan nafas terakhirnya tanpa mau menuruti kemauan para bedebah serakah untuk menandatangani berkas pelimpahan hak. Aku bernafas lega, menki orang tua itu telah pergi, tapi setidaknya beliau pergi dengan tenang. Pergi dengan sebuah senyuman di ujung bibirnya.

Para bedebah itu, ....
ah, sudahlah. mereka telah gagal menguasai seluruh kekayaan orang tua itu. Tapi ku yakin, mereka tak akan menyerah begitu saja demii memiliki separuh dunia ini.

Langkah-langkah liar itu kian menjauh, meninggalkan orang tua yang telah terbujur kaku di pembaringan, dan melepaskan ikatanku. Kini, aku menangisi sebongkah raga yang tak lagi bisa terjaga, kulewatkan untuk merawatnya sampai di pembaringan terakhir bersama sebagian orang terdekatnya yang setia. hanya aku, anak angkatnya yang bukan siapa-siapa yang akan mewarisi separuh dunia ini. 

Orang tua itu telah meninggalkan berjuta kenangan yang tak bisa ku lupakan. berjasa dalam seluruh hidupku. dan saat ini yang ku fikirkan, bagaimana membongkar seluruh kebusukan para bedebah itu.

****


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU