Tak terasa hari itu panas sangat menyengat mengeringkan peluhku, keringat yang membasahi tubuhku begitu cepat mengering. walau penas begitu menyengat, tak menyurutkan niatku untuk melanjutkan perjalanan ini.
Entah sudah berapa orang yang ngingetin gue buat potong rambut, tapi gue masih ogah-ogahan. Gue ngerasa tukang cukur itu seseorang yang sangat menakutkan, tapi gue bukan phobia tukang cukur lho...... Cuma, gue bener-bener males yang namanya potong rambut. Bukan karna gak ada duit, tapi selama ini gue ngerasa ngebiarin rambut panjang itu asyik. meskipun terbilang boros kalo pake shampo, boros kalo pake minyak rambut, kalo pas bangun tidur kondisi rambut masyaAllah....... kaya kepala singa, trus ketika lagi buru-buru jadi gak bisa, kan harus ngerapiin rambut dulu. Ini gaya baru rabut gue. meskipun buat kalangan umum ini sih biasa aja, tapi buat gue ini baru. Karna sebelumnya gue gak pernah pake gaya rambut kayak gini. Tapi........ Boleh juga yach........
Dalam sebuah cerita yang telah usang, kutarik sedikit pelajaran hidup yang terkandung didalamnya. Ada sebuah kisah yang telah lama terjadi dan sudah terasa kadaluwarsa. Ini ceritaku, sebuah drama percintaan ala anak abege yang masih labil yang belum menemukan jati dirinya. Bermula dari ujian SNMPTN. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah, aku memang tidak langsung melanjutkan studiku. Tetapi mengabdi dulu untuk membantu mengajardi Madrasah Ibtidaiyah. Selama satu tahun aku menghabiskan waktu sebagai tenaga pendidik suka rela. Aku juga sadar, dalam menjalankan aktivitas harian ku mengajar, aku bukanlah seorang yang memiliki banyak ilmu. Tapi setidaknya aku bisa mengamalkan ilmu yang telah kudapat selama 12 tahun. Singkat kata, setelah selesai masa pengabdianku, aku memutuskan untuk melanjutkan studi. Kupilih Perguruan Tinggi Negri favorit di kota ku. Aku melakukan perjalanan yang lumayan jauh dari tempat asalku dipelosok negri. Dengan perjalanan menggunakan Speed boat kurang...
Aku mengitari jejal langkahku, menitikan bekas yang terlalu sulit untuk kuhapus. Diantara rerumputan itu, ku letakkan sedikit sisa asaku agar kembali normal, yang sekian lama terasa down karena masalah itu. Masih sama seperti saat aku menginjakkan kaki dibumi, duniaku terasa sempit. Berulang kali aku membuka mata, melihat seluruhnya isi dunia, namun tetap saja duniaku terasa sempit. aku seperti dalam bayang-bayang kelam yang terus membawaku tenggelam. Dinding-dinding kekuatanku tlah musnah ditelan sang waktu. Sisa asaku tak kuat lagi untuk aku berjuang. kini semua itu seolah tak ada lagi artinya dikala aku jatuh terjerembab dalam jurang yang teramat dalam, aku tak mampu bangkit menggelorakan semangatku lagi. Ya Tuhan..... Aku memang lemah, tak sekuat teriakanku pada orang lain agar kuat menghjadapi segala ujianmu. aku terlalu lemah untuk menghadapi semuanya. Saat mataku terbuka, melihat seluruh sudut dunia, masih kurasakan sesak didadaku. Kadang aku merasa bahagia saat ada didekatmu, n...
Komentar
Posting Komentar