Di Pucuk Menara

Hari itu benar-benar hari yang sangat melelahkan bagiku, tugas kuliah yg kian menumpuk, permasalahan hati yang sedang kacau, keuangan ku yang sedang krisis semakin buatku ingin berenti kuliah. Aku hampir putus asa dengan keadaan yang tak mendukung ku.

Aku berbaring di atas kasur yang sudah hampir lapuk di makan masa, ku pejamkan mata ini untuk melepas lelah, ku berusaha berfikir jernih supaya tak ada beban di hati. Tapi kemelut masalah yang sedang ku hadapi terbawa sampai ke dalam mimpi. Sesaat aku tersentak kaget dan bangun dari tidurku, aku termenung memikirkan mimpiku yang baru saja ku alami. Aku berfikir, "mungkinkah mimpi ini jadi kenyataan?" Hati ku bertanya-tanya sendiri.

Kembali ku tenangkan diriku, Ku ambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dari keringat dan debu. Lelah rasanya seharian penuh duduk di bangku kuliah, di tambah dosen yang membosankan.

Senja pun berakhir dengan munculnya mega merah di ufuk barat tanda magrib telah tiba. Kumandang Adzan pun berkumandang di pucuk menara masjid, begitu indah lantunan adzan ku dengarkan. Suara adzan mengingatkan aku tentang masa-masa aku hidup di pondok pesantren. Dan tiba-tiba bayangan masa lalu hadir di pelupuk mataku, dan mengingatkan ku pada seseorang yang pernah aku kagumi saat aku di pondok pesantren.

Aku kembali tersadar dari lamunanku,suara adzan tlah berenti, ku ambil wudhu untuk menunaikan sholat magrib berjama'ah di masjid yang letaknya tak jauh dari tempatku tinggal.

Selesai sholat magrib aku kembali ke kosan ku. aku lihat pintu kosan masih belum terbuka, dan berarti temanku belum pulang dari kampuz. Aku masih sendiri di kosan, coba menonton tv buat ngilangin rasa bosan dan lelahku. tapi acara tv yang membosankan, semakin buatku bete.

Ku putuskan buat pergi ke rumah temen dengan harapan dia bisa bantu permasalahanku dan ngilangin rasa bete'ini. Tapi semua harapan ku tadi tak terkabul. Temen yang aku tuju sedang pergi keluar. Tak ada lagi yang bisa bantu aku.

Aku berjalan kembali ke kosan ku. di tengah gelapnya malam yang di hiasi redupnya cahaya bulan, tiba-tiba aku di kagetkan oleh sosok bayangan kecil. Ku dekati perlahan-lahan, betapa kagetnya aku ketika ku tau kalau itu adalah temenku yang aku tuju. dia sedang nongkrong di perempatan jalan sendirian. Dan ternyata dia pun sedang menghadapi masalah yang menurut dia sulit untuk dia hadapi.

Aku pun bercerita kalau aku juga sedang menghadapi masalah yang sulit di pecahkan. Akhirnya aku dan dia sama-sama saling sharing tentang pernasalahan masing-masing.

Aku dan temenku tadi memanjat menara yang tak ada seorang pun mengetahuinya. di pucuk menara inilah aku curahkan segala keluh kesahku seharian. Aku ungkapkan pada malam yang remang-remang tentang permasalahan hati yang kacau. pada bulan ku beri tahu akan kisahku, pada bintang ku utarakan keinginanku.

Aku dan temenku terdiam dan tak berucap sepataah kata pun. Kami melamunkan permasalahan masing-masing.

Dalam lamunanku, ku teringat kisah yang tak ku sangka akan terjadi. kisah percintaanku yang tak ku duga akan terjadi, dan berjalan dengan manis di awal, tapi berakhir tragis di ujung kisah. Ketika ku teringat hal itu, sampai aku menitikan air mata walau hanya setetes. Karena terlalu perih bila di ingat-ingat.

Malam pun semakin larut, mataku pun sudah mulai lemas. dan mulutku pun sudah menguap terus. ku lihat jam di hape ku menunjukkah jam 02.30. MasyaAllah, aku baru tersadar kalau ini sudah pagi. aku dan teman ku masih di pucuk menara. belum bergerak sedikitpun.

Aku mengajaknya turun dan pulang, dia pun menuruti ajakanku. Dingin rasanya ku rasakan setelah aku berada di bawah, tak seperti ketika masih berada di pucuk menara, aku tak merasakan kedinginan.

Kami pun pulang ke kosan masing-masing,. mungkin aku terlalu ngantuk, ketika ku ketok pintu kosan dan temen satu kosanku membukakan pintu, aku langsung tergeletak di pembaringan. dan merajut ke alam mimpi. walau pemasalahan belumlah usai, tapi rasanya puas saat aku ungkapkan semua permasalahanku di Pucuk Menara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU