MEMELUK BULAN
Sore itu aku baru pulang dari kampus. Rasa capek menjalar di sekujur tubuhku. Aku mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis. Kemudian aku mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat ashar.
Aku berdiiri sejenak di pintu kos ku, sambil melihat sekeliling yang masih sepi karena temen-temen belum pada pulang. Sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok, terasa nikmat sekali, seakan capekku hilang seketika.
Aku masih asyik menikmati kopi dalam gelasku, tiba-tiba aku di kagetkan oleh seseorang yang paling ku benci. Dia datang tampa sepengetahuanku dan tanpa seizinku. Tiba-tiba sudah nongol di hadapanku. Entah dari mana asalnya. Tapi aku tak mempedulikannya.
Sesaat aku memandangi jalanan yang becek, memandangi pepohonan yang hanya dua batang di depan kos, memandangi anak-anak yang sedang bermain, memandangi langit, dan pandanganku sesaat berhenti saat ku lihat bulan sudah mulai tampak.
Saat itu juga tiba-tiba aku rindu pada seseorang yang bebar-benar aku harapkan kehadirannya. Aku juga tak tau kenapa tiba-tiba saja aku rindu dia saat aku melihat bulan di senja hari. Aku baru teringat, dulu aku pernah menikmati saat seperti ini bersamanya. Dan aku pun pernah berangan-angan memeluk bulan bersamanya.
Andai aku masih bersamanya, pastilah aku sedang menikmatai saat seperti ini bersamanya. Sunggung aku rindu padanya. Apakah yang sedang dia lakukan saat ini, apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan ??
Aku terus terlarut dalam masa laluku, sampai aku tak tau kalau saat ini adzan magrib telah berkumandang. Aku masih saja terpaku menatap sang bulan penerang malamku. Ingin rasanya aku memelukmu bulanku, menikmati indahnya malam ini bersamammu.
Aku beranjak dari lamunanku, sesaat sebelum beranjak aku menatap rindu bulanku, dengan senyum kerinduan.
****
Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan gontai seperti tak bersemangat. Entah mengapa, sejak kemarin sore aku melihat bulan yang mengingatkan aku saat bersama seseorang yang paling ku sayang, semangatku seperti tenggelam didasar samudra. Seakan susah untuk timbul ke permukaan.
Saat belajar pun aku ingin cepat-cepat pulang. Rasa bosen masih terus berlanjut mengitari fikiranku. Aku hampir putus asa, saat semua teman-temanku tak ada yang memperdulikan aku. Aku bagai orang yang terus kesepian. Dan memang ternyata aku selalu kesepian. Tiap malam aku selalu merindukan kasih sayang dari seseorang yang slalu ku rindu. Bulan di senja hari.
Aku berdiiri sejenak di pintu kos ku, sambil melihat sekeliling yang masih sepi karena temen-temen belum pada pulang. Sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok, terasa nikmat sekali, seakan capekku hilang seketika.
Aku masih asyik menikmati kopi dalam gelasku, tiba-tiba aku di kagetkan oleh seseorang yang paling ku benci. Dia datang tampa sepengetahuanku dan tanpa seizinku. Tiba-tiba sudah nongol di hadapanku. Entah dari mana asalnya. Tapi aku tak mempedulikannya.
Sesaat aku memandangi jalanan yang becek, memandangi pepohonan yang hanya dua batang di depan kos, memandangi anak-anak yang sedang bermain, memandangi langit, dan pandanganku sesaat berhenti saat ku lihat bulan sudah mulai tampak.
Saat itu juga tiba-tiba aku rindu pada seseorang yang bebar-benar aku harapkan kehadirannya. Aku juga tak tau kenapa tiba-tiba saja aku rindu dia saat aku melihat bulan di senja hari. Aku baru teringat, dulu aku pernah menikmati saat seperti ini bersamanya. Dan aku pun pernah berangan-angan memeluk bulan bersamanya.
Andai aku masih bersamanya, pastilah aku sedang menikmatai saat seperti ini bersamanya. Sunggung aku rindu padanya. Apakah yang sedang dia lakukan saat ini, apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan ??
Aku terus terlarut dalam masa laluku, sampai aku tak tau kalau saat ini adzan magrib telah berkumandang. Aku masih saja terpaku menatap sang bulan penerang malamku. Ingin rasanya aku memelukmu bulanku, menikmati indahnya malam ini bersamammu.
Aku beranjak dari lamunanku, sesaat sebelum beranjak aku menatap rindu bulanku, dengan senyum kerinduan.
****
Pagi ini aku berangkat ke kampus dengan gontai seperti tak bersemangat. Entah mengapa, sejak kemarin sore aku melihat bulan yang mengingatkan aku saat bersama seseorang yang paling ku sayang, semangatku seperti tenggelam didasar samudra. Seakan susah untuk timbul ke permukaan.
Saat belajar pun aku ingin cepat-cepat pulang. Rasa bosen masih terus berlanjut mengitari fikiranku. Aku hampir putus asa, saat semua teman-temanku tak ada yang memperdulikan aku. Aku bagai orang yang terus kesepian. Dan memang ternyata aku selalu kesepian. Tiap malam aku selalu merindukan kasih sayang dari seseorang yang slalu ku rindu. Bulan di senja hari.
Komentar
Posting Komentar