Menuju Muara
aku masih teringat akan tawa kecil nan menggoda di sisi sungai sore itu, namun aku belum bisa bertemu dengannnya kembali sampai saat ini. mungkin itu pertemuanku yang pertama dan terakhir dengannya. ada satu hal yang membuatku ingin berjumpa kembali dengannya, rasa penasaranku akan dirinya. aku sungguh kagum, takjub, dan salut penuh debar saat pertama kali lihat dirinya. seorang gadis cilik periang nan imut masih bermain dan menari di pelupuk mataku.
waktu itu, beberapa tahun yang lalu saat aku masih merasakan panasnya bangku sekolah. dan saat aku baru merasakan betapa indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama. dan untuk pertama kalinya aku merasakan getaran asmara.
di tepi sungai sore itu, aku baru saja memakai pakaianku setelah aku mandi berjam-jam di bantaran sungai. aku duduk sejenak di tepian untuk menikmati pemandangan di sore hari, memang indah dan bahkan bisa di bilang sungguh indah. di antara pandanganku, aku melihat seorang gadis kecil membawa seonggok cucian untuk di cuci di sungai. aku melihatnya dari seberang. perlahan-lahan dia keluarkan baju kotor satu persatu dari sebuah tempayan besar, ku lihat wajah imutnya yang di hiasi lesung pipit yang menggoda tampak pucat, mungkin dia sedang sakit. namun tak menghilangkan keanggunannya.
arus sungai yang cukup deras membuat riak-riak sungai tampak indah, bergelombang kecil namun pasti. dedaunan pohon berjatuhan terhempas angin dan jatuh di permukaan sungai, seolah membuat sekumpulan perahu yang sedang berlayar mengarungi lautan. ocehan burung-burung pengintai terus bersahut-sahutan satu sama lain, membuat sebuah alunan musik alami
Pikiranku terbelah, antara menikmati indahnya sore hari dan menatap gadis itu penuh arti. sore itu, hanya ada aku dan dia di sungai itu, namun terpisah oleh sungai yang membelah jarak aku dan dia. di sela-sela lamunanku, aku di kagetkan oleh teriakan yang memanggilku. sesaat aku bangun dari lamunanku, ku lihat gadis itu meanggilku seraya bemohon kepadaku untuk menolongnya mengambil satu pakaian yang sedang ia cuci jatuh terbawa arus sungai.
serentak naluri kepahlawananku bangkit untuk menolongnya. sontak saja, tanpa menunggu aba-aba aku langsung lari menelusuri sungai untuk mencari sebuah pakaian yang terbawa arus. jauh ku telusuri sungai sampai ke hilir, namun hasilnya nihil. aku berharap pakaian itu tersangkut di ranting-ranting pohon yang menjalar ke sungai, namun tak ku temukan hal itu. terus saja ku telusuri sungai itu sampai membawaku ke muara sungai, namun tak jua ku temukan.
aku kembali ke hulu tanpa hasil. aku kecewa, kecewa sekali karena tak bisa menolongnya. aku berkata padanya bahwa aku tak bisa menemukan pakaian itu. di hanya tersenyum kecil padaku, dan hanya mengucapakan terimakasih. hanya itu, tanpa ada kata lain yang keluar dari mulutnya. di hadapannya, aku pun tak bisa berbuat banyak.
setelah tau usahaku tak membuhkan hasil, dia berkemas untuk pulang dengan wajah sendu. satu tatapan tajam yang sempat ku tangkap saat dia menoleh kepadaku di sela-sela perjalanannya untuk pulang. sambil tersenyum kecil, dia berkata, "makasih ya, dah mau nolong aku, walau gak ada hasil, makasih banget....."
dag dig dug...... jantungku berdegup kencang. aku tak dapat berkaya apa apa, "iya.... sama-sama...". hanya itu yang keluar dari mulutku. seakan senyumannya mengunci mulutku untuk berbicara lebih. satu tatapan penuh arti.
***
sejak peristiwa itu, aku tak pernah melihatnya kembali. setiap sore aku berlama-lama di sungai hanya untuk melihatnya. namun aku tan pernah melihat di membawa seonggok cucian lagi ke sungai. sampai saat ini, aku belum melihatnya kembali. entah sudah seperti apa dia sekarang, entah masih mengingatku atau tidak. yang pasti, aku masih berharap bisa bertemu dengannya kembali. meski mungkin dia telah milik orang lain. hanya untuk mengibati rasa rindu yang tlah bertahun-tahun. saat aku menuju muara untuk membantunya mencari pakaiannya yang terbawa arus sungai.
Komentar
Posting Komentar