ARTI SEBUAH ULANG TAHUN
Hari ini aku genap berusia 21 tahun, usia yang sudah terbilang dewasa dan usia yang rawan terhadap berbagai arus globalisasi. Di usiaku yang ke 21 tahun, aku belum menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Aku masih suka foya-foya, masih suka bersenang-senang yang hanya kesenangan sesaat. Aku belum bisa membuat orang tua ku bangga akan diriku. Aku belum bisa hidup mandiri, dengan kata lain aku masih tergantung terhadap orang tua.
Usiaku di dunia semakin bertambah, itu berarti jatah umurku di dunia kian sedikit. Seiring berubahnya zaman, bergantinya waktu, berputarnya hari, aku kian terlena dengan berbagai kesenangn dunia, tanpa mempedulikan untuk bekal akhiratku. Aku sering menangis, menangisi segala dosa-dosaku yang kian bertambah. Sementara amalku hanya sedikit.
Bagiku, ulang tahun tak ada yang spesial. Bagiku, ulang tahun hanya patokan untuk mengingat kapan kita di jadikan di dunia. Semoga, dengan mengingat hari jadi ku, aku semakin mensyukuri kenikmatan yang di berikan Allah.SWT. Ulang tahun menjadi hari yang bisa di jadikan untuk mengoreksi usia yang telah kita manfaatkan. Apakah kita telah memanfaatkannya dengan baik, ataukah sebaliknya.
Aku tak merasa bangga dengan bertambahnya usiaku, namun aku merasa sedih karena kesempatanku hidup di dunia semakin sedikit. Dari itu, sisa usiaku yang tinggal sedikit lagi akan ku manfaatkan sebaik mungkin.
Aku tak tau, apakah memang di sengaja, atau hanya kebetulan saja. Ulang tahunku yang ke 21 bertepatan dengan tahun baru islam, 1 Muharram 1432 H. Aku semakin merinding. Kenapa bisa begitu? Mungkin sebagian orang menganggap itu tak penting, tapi bagiku, aku merasakan sesuatu yang berbeda di tahun baru, di usia yang baru. Bulan baru islam yang oleh orang jawa di sebut bulan suro, mengkisahkan berbagai kejadian-kejadian mistik yang sering terjadi di bulan ini. Orang tua menyebutnya sebagi bulan angker. Entah bener atau gak, yang pasti, tahun baru islam yang bertepatan dengan ulang tahunku membuat aku semakin introspeksi diri.
Di zaman yang kian modern ini, orang banyak salah menafsirkan arti sebuah ulang tahun. Di kampusku saja. Setiap ada yang ulang tahun, selalu di kerjain habis-habisan, seolah hari ulang tahun menjadi hari bebas untuk melakukan apa saja kepada orang yang ulang tahun. Selain itu, orang yang ulang tahun akan di tagih untuk mentraktir semua teman-temannya. Ini sudah menjadi kebiasaan yang membudaya di lingkungan kampusku. Mungkin juga di lingkungan lain yang lebih luas juga seperti itu.
Dengan begitu, aku jadi takut untuk berulang tahun jika hanya di jadikan objek penderitaan. Seperti hari ini, aku baru saja menjadi bulan-bulanan teman-temanku. Ya, karena hari ini adalah hari ulang tahunku.
Baru saja bermain futsal bersama yang melelahkan, untuk mempersiapkan acara PORIM di kmpus yang entah kapan akan di laksanakan. usai bermain futsal, aku sudah di kerjain. Sebenarnya aku sudah menduga sebelumnya, tapi aku bersikap biasa saja. Dimulai saat pulang menuju jlan, tepat di pintu gerbang GOR, mukaku di hujani telor, gak Cuma itu, aku pun di gotong dan di ceburin di jalanan yang rusak akibat genangan air sampai punggungku lecet-lecet kena koral penimbun jalan.
Yah, aku terima lapang dada, karena aku juga sering ikut seperti itu ketika temen-temenku ulang tahun.
***
Ulang tahunku kali ini tak terlalu istemewa. Entah kenapa, rasanya masih ada yang kurang. Aku pun tak merasa bahagia menyambut usiaku yang baru.
Hati ini selalu bertanya, apa sebenarnya yang bisa membuat diriku lebih berarti. Cintakah...? harta kah...? cita kah...? aku semakin tak mengerti akan semua yang ku rasakan. Seolah aku tak memiliki sesuatu yang berarti yang mungkin bisa membuat hatiku tenang. Rasa cemas selalu muncul ketika aku sedang sendiri dan menyepi. Terlebih malam ini, malam yang seharusnya aku merasakan kebahagiaan.
Satu yang masih ku tunggu, ucapan selamat ulang tahun dari seseorang yang selalu ku tunggu, yang selalu ku nanti, dan selalu terbawa dalam mimpi. Seseorang yang dulu pernah mengisi hari-hariku meski bukan pacarku, tapi sejujurnya dialah yang bisa membuatku tenang dan merasakan betapa nikmatnya kehidupan. Tanpa melampaui kekuasaan Allah, aku berkata seperti itu.
Sampai kini, dia menghilang dari pandanganku, dia pergi tanpa permisi padaku. Dan tanpa alasan yang jelas dia memalingkan muka saat ku sapa. Padahal sejujurnya hati ini sangat merinduinya. Yah.... tak apalah, semua memang perlu ujian. Ku anggap itu sebagai ujian untuk mendapatkan cintanya suatu saat nanti. Dan ku berharap itu.
Kini aku menatap kehidupanku kedepan. Merancang segala sesuatu yang belum tercapai di usiaku yang lalu. Dan ku coba merubah segala sikap dan sifatku untuk menjadi lebih baik, dan berarti untuk orang lain.
BTW, that's real. Entah takdir atau ap lah gk tau. Q merasa lahir ditanggal, bulan Dan tahun yang istimewa. Tgl 1 bln 9 tahun 90. Jika digabungkan menjadi angka tahun 1990. Dan ulang tahunku yg ke 29 bulan September tahun ini, bertepatan juga dengan tgl 1 suro (muharram). Perasaan merinding campur bahagia. Semoga gk ada makna mistis.
BalasHapusWah.. Sama-sama Spesial....
Hapus