Di Satu Sudut Hatiku


Mataku berkaca-kaca ketika aku tau semua rinduku tak berarti. Semua rasaku tak bersandar. Seiring bergantinya waktu, semua pun berubah begitu cepat. Begitu juga kisah pahit perjalanan cintaku, berubah semakin pahit.

Akankah ini akan terus berlanjut dalam hidupku? Terus mengisi hari-hariku yang kelabu? Aku pun ingin di cintai, ingin di sayangi oleh seseorang yang aku cintai dan aku sayangi. Tapi semua keinginanku tak terpenuhi. Selalu saja aku dibuat sakit hati oleh orang-orang yang ku cintai.

Mungkin sudah terlalu sering aku mengalami hal seperti itu, dan telalu sering aku alami. Namun keajaiban yang ku harapkan tak kunjung datang.

Dunia terlalu hina buat ku menangis hanya karena cinta, tapi aku terlalu lemah menghadapi itu semua. Dan akhirnya aku tersedu juga di sudut gelapku. Meratapi semua sesalku, menangisi kelemahanku di balik tirai hatiku.

Terlalu sakit bila di rasakan dalam balutan perasaan. Namun terlalu manis bila di nikmati dalam balutan iman. Sungguh aneh memang, rasa yang berbeda dari dua sisi yang berbeda. Namun itulah suka dukanya cinta.

Aku merasakan keistimewaan dari sudut yang berbeda. Di satu sisi aku menikmati semua kegagalanku, dan di sisi lain aku menangisi kehancuran hatiku. Semua ku rasakan silih berganti di waktu yang berbeda, dan di tempat yang berbeda. Semua bervariasi. Timbul dengan sendirinya, dan hilang tanpa di sadari.

Semua yang menjadi hiasan hatiku, telah hilang bersama waktu. Bunga yang dulu bermekaran di taman jiwaku, kini telah layu.
Masihkah akan ku lihat dia saat aku terlelap untuk selamanya? Masihkah akan ku rasakan derai canda tawanya saat aku tak mampu lagi menatap dunia?

Tuhan.................
Azinkan aku merasakan cinta hambamu yang mencintaiMU.....
Izinkan aku bersandar pada hambamu yang memegang teguh agamamu....
Aku tersadar akan diriku bahwa aku terlalu lemah menghadapi ini semua. Terlalu mudah aku terperangkap oleh buaian cinta yang semu. Aku menyadari itu, namun aku belum bisa bangkit dari keterpurukanku. Bila saatnya kan tiba, akan ku rengkuh sisa-sisa asaku untuk membuktikan bahwa aku bisa lebih dari apa yang mereka kira.

Kini semua terlalu cepat berlalu. Semua terlalu cepat untuk terlewati, meski tak mudah untuk di hadapi. Hatiku terus bertahan, mataku terpejam, bibirku terkunci, perasaanku tak berarti, jntungku terus berdetak kencang, mengiringi setiap derai air mata yang mengalir dari pelupuk mataku. Aku masih bertahan.

Di sudut hatiku yang terkecil, masih tersimpan sisa cinta yang tak terbalas. Masih ku simpan rapi di singasana hatiku. Meski semua tak seperti yang ku harapkan, tapi masih tersimpan indah di hiasi ribuan permata jiwa. Akan tetap ku jaga meski sudah tak memancarkan cahaya kemilau seperti dulu. Kini redup dan kian redup seiring hilangnya dirinya dari pandanganku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU