KETIKA SEPI ITU DATANG

Aku adalah seorang yang masih dalam keadaan tak menentu. Berbagai kegiatan telah aku ikuti, berbagai aktifitas telah ku jalani, ikut dalam organisasi sudah, kumpul sama temen-temen sering. Namun aku merasakan sesuatu yang orang lain tak merasakan. Ada suatu kekurangan dalam hidupku, ada hal yang masih belum terlengkapi di hidupku.

Entah sampai kapan semua ini akan berlanjut, suatu rasa yang tak bisa di mengerti. Seiring berkembangnya kehidupanku, mimpi-mimpiku pun ikut berkembang. Dulu aku hanya menginginkan suatu yang biasa saja, namun sekarang aku menginginkan yang lebih. Mungkin karena kodrat manusia tak pernah menemukan kepuasan hidup.

Puncak rasa yang berkecamuk adalah tatkala sepi itu datang menghampiri diri yang memang sedang kesepian. Aku merasa tak seperti kebanyakan orang. Ketik aku melihat kemesraan sepasang sejoli, rasa iri di hati timbul, seakan aku juga ingin seperti mereka. Namun dengan siapa aku akan menjalani seperti itu? Aku bertanya sendiri tanpa menemukan jawabannya.

Suatu malam aku pergi menenangkan diri, karena di kos-kosanku sudah terlalu sumpek untuk menenangkan diri. Seperti biasa, jika hatiku sedang kacau, kampuslah tempatku mencurahkan segala kegalauan hatiku. Malam itu aku sengaja berjalan sendirian ke kampus. bulan dengan cahaya remang-remangnya menemani langkahku menyusuri jalanan yang berbatu. Malam itu perasaanku memang sedang kacau, antah barantah, dan aku tak mampu untuk berfikir positif.

Sesampainya di kampus, aku duduk di lapangan basket, sendirian, hanya di temani suara rerintihan kodok, karena habis hujan. Aku beralih untuk tidur terlentang menghadap langit, melihat keluasan alam ketika malam, ku lihat hanya ada beberapa bintang yang muncul malam itu, bulan pun hanya separuh hatinya menampakkan cahayanya, dan langit masih di selimuti awan hitam, namun tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Ku pejamkan mataku sesaat, terasa damai ku rasakan. Semua unek-unek ku mulai berkurang. Rasa yang semula tak menentu mulai fress. Hanya, masih ada perasaan yang sungguh membuatku berkecil hati. Ini perasaan lama yang kambuh lagi karena sesuatu hal. Ah.... kenapa aku harus kepikiran itu lagi ? bukannya aku harus melupakannya ?

Aku memang bukan tipe orang yang gampang melupakan masalah, meski masalah itu sudah selesai. Tapi aku selalu kebingungan ketika menghadapi masalah yang benar-benar rumit. Hanya saja, aku tak menggampangkan masalah, sekecil apapun masalah itu. Aku menganggap semua masalah itu sebagai masalah besar yang menuntut profesionalitas yang tinggi. Karena menurutku semua masalah itu harus di selesaikan.

Aku jadi kepikiran akan kata-kata lama yang pernah di ucapkan seseorang ke padaku. “Aku tak memaksa kamu menunggu aku sampai aku selesai kuliah, silahkan kamu pilih wanita lain jika kamu merasa tak sanggup lagi untuk menungguku, karena aku tak mau mengikat kamu”. Kata-kata itu kini bermain-main di fikiranku. Memang, dulu aku menyatakan kesediaan ku menunggunya sampai dia selesai kuliah, tapi setelah ku tau ternyata dia mengeluarkan kata-kata seperti itu hanya untuk menolakku dengan halus, aku mulai berfikir untuk melupakannya.

Memang, aku tak merasa sakit hati ketika dia tak bersedia menjadi pacarku, tapi cara dia mengelabui ku yang membuatku kecewa.
Ah.... sudahlah, aku tak mau lagi memikirkan itu lagi. Biarlah semua ini akan menjadi pengalaman di hidupku.

Meski dalam pikiranku sedang memikirkan gadis itu, tapi perasaan ku sudah tak ada lagi untuknya. Karena, setiap aku memikirkannya, timbul rasa sakit yang mendalam. Apa lagi ketika sepi benar-benar sedang menyelimuti ku, rasa sakit itu kian terasa sangat. Sampai air mataku berlinang.

Sepi memang benar-benar membawaku ke alam yang aneh. Kadang membawaku ke saat-saat menyenangkan, kadang membawaku pada hal-hal yang lucu, namun tak jarang membawaku pada saat-saat yang penuh kesedihan.

Ibarat lilin dengan sinar kecilnya menerangi sebagian sudut gelap itu, dia pun pernah menerangi sudut gelap hatiku. Namun itu hanya sesaat. Tiupan topan memadamkan sinar kecil yang berjuang menerangi alam perasaanku. Hingga akhirnya lilin itu pun padam, aku seolah kehilangan arah. Gelapnya perasaan ku mengacaukan segala aktifitasku. Dia telah membuatku kembali terjatuh.

Aku terlalu sering mangalami hal seperti ini. Entah sudah yang ke berapa kalinya aku di sakiti, di kecewakan, dan di hianati oleh seseorang yang aku cintai. Apa itu karena aku terlalu lemah..? atau aku terlalu mudah untuk di sakiti..?

Mungkin akunya yang salah memilih wanita. Atau mungkin aku gak bisa membedakan wanita yang baik dengan yang tidak baik. Memang sih, selama ini aku menilai hanya dari luarnya, tanpa memperhatikan akhlaknya. Aku jadi mengerti sekali kenapa aku selalu gagal dalam menjalin sebuah ikatan batin. Yah.. buat pengalaman aja lah.

Aku ingin seperti tokoh samsul dalam novel “Dalam mihrab cinta” yang giat berdakwah dan tekun serta pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Meski telah di fitnah oleh temannya sendiri, di kucilkan dari keluarga, dan seolah dunianya telah hancur, tapi semangatnya untuk memperbaiki citra dirinya sangat tinggi. Aku ingin seperti itu. Meskipun perbedaanya jauh sekali dengan aku, tapi kisah samsul dalam novel yang terkenal itu, telah menginspirasiku untuk berbuat baik kepada siapa saja. Dan untuk semakin mendekatkan diri kepada ALLAH AZA WAJALLA.

Aku baru tebangun dari hayalku ketika hape ku berdering. Aku masih menikmati malam itu di lapangan basket kampus. kulihat d layar hapeku, salah satu temanku mengirim sms. Sebuah ajakan untuk mencari makanan.

“Ah... aku masih kenyang. Kalau kamu mau byarin, aku mau temenin kamu” aku mengetik sms balasan untuk dia, lalu ku send. Kemudian aku melanjutkan lagi lamunanku dalam pekatnya kesepian itu.

“OK” dia membalan sms ku.

“ya sudah, aku sekarang di kampus, kamu kesini aja, aku nunggu di sini” kembali aku membalas sms dia.

“OK” dia kembali hanya bilang ok tanda setuju.

Sebenarnya aku tak mempedulikan dia datang atau gak, karena aku pun gak terlalu niat untuk nyari makanan, hanya kerena di bayarin, gak ada alasan untuk nolak. Tapi setelah nunggu lama, dia gak datang-datang juga.

Akhirnya sepi benar-benar menyelimutiku. hingga malam kian larut, aku masih di tempat ini. Entah apa yang membuatku begitu merasakan suatu ketenangan, hanya itu yang bisa ku rasakan saat sepi benar-benar menjadi teman setiaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU