Catatanku
Udara terasa agak panas, dan banyak debu beterbangan di sekelilingku. walau begitu, aku masih bisa tertidur dengan nyeyak di kos-kosan temanku.
aku terkejut, saat hapeku berdering. ku lihat di layar lcd nomor baru yang belum ku kenal.
"assalaamu'alaikum...... " sapaku memberi salam
"wa'alaikum salam, do, ini mama" jawab seorang di seberang sana, yang ternyata mamaku.
"oh mama, gimana kabar mama?" tanyaku membuka percakapan.
"mama baik-baik aja, kamu ada pulsa gak? telpon mama ya, mama mau curhat sama kamu".
"iya ada ma"
"kamu telpon mama sekarang ya" pinta mamaku.
"iya deh ma" jawabku sambil menutup percakapan.
Aku ngerasa ada sesuatu yang janggal yang terjadi di rumah. ku dengar suara mama agak serak seperti habis menangis. suara mama yang payau membuat aku semakin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
ku call no mama tadi yang masuk.
"Halo, do,,," sapa mama
"iya ma, ada apa sih ma...? tanyaku
"mama habis nangis ya" tanyaku lagi.
"iya, mama habis nagis....., papamu yang buat mama nangis"
"ada apa dengan papa ma...?
..................................................
..................................................
..................................................
Tak terasa, air mataku meleleh dari pelupuk mataku. rasa pedih bercampur dendam bergelayutan di hatiku. aku tak kuasa menahan amarahku terhadap papaku sendiri. dari curhat mamaku, aku bisa merasakan kepedihan yang di alami mamaku.
saat itu juga, aku berniat untuk pulang. untuk meredakan problema yang terjadi di keluargaku. aku merasa harus bertindak cepat, sebelum semuanya terlambat, hingga terjadi sesuatu yang tak ku inginkan.
untungnya aku sedang libur, cukup lamalah untuk bisa meredakan situasi di rumah. aku yang niatnya gak pulang di liburan semester ini, bisa gak bisa harus pulang secepatnya. harus, jika tidak, suasana di rumah makin parah.
Aku sedih, miris, prihatin, benci, jengkel, dan semua perasaan negativ menyatu dalam hatiku. entah, sejak mendengar curhat mamaku, rasa ingin pulang kian menggebu. dan rasa intu kini telah sampai di ubun-ubun. namun aku harus bersabar, aku gak boleh grasa-grusu sampai akhirnya gegabah. dan itu yang akhirnya membuat semuanya terjadi gak seperti yang ku inginkan.
Aku tenangkan hatiku. sejenak ku hela nafas panjang dari rongga dadaku untuk menenangkan hati. ku keluarkan berlahan-lahan sambil ku nikmati. aku bergerak melangkah pasti, namun penuh kehati-hatian.
ku lupakan sejenak problema dalam keluargaku. aku ingin menikmati sejenak liburanku di sini. dan besok, saatnya buat beli tiket untuk pulang. dan ku berharap, semua akan baik-baik saja.
aku terkejut, saat hapeku berdering. ku lihat di layar lcd nomor baru yang belum ku kenal.
"assalaamu'alaikum...... " sapaku memberi salam
"wa'alaikum salam, do, ini mama" jawab seorang di seberang sana, yang ternyata mamaku.
"oh mama, gimana kabar mama?" tanyaku membuka percakapan.
"mama baik-baik aja, kamu ada pulsa gak? telpon mama ya, mama mau curhat sama kamu".
"iya ada ma"
"kamu telpon mama sekarang ya" pinta mamaku.
"iya deh ma" jawabku sambil menutup percakapan.
Aku ngerasa ada sesuatu yang janggal yang terjadi di rumah. ku dengar suara mama agak serak seperti habis menangis. suara mama yang payau membuat aku semakin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
ku call no mama tadi yang masuk.
"Halo, do,,," sapa mama
"iya ma, ada apa sih ma...? tanyaku
"mama habis nangis ya" tanyaku lagi.
"iya, mama habis nagis....., papamu yang buat mama nangis"
"ada apa dengan papa ma...?
..................................................
..................................................
..................................................
Tak terasa, air mataku meleleh dari pelupuk mataku. rasa pedih bercampur dendam bergelayutan di hatiku. aku tak kuasa menahan amarahku terhadap papaku sendiri. dari curhat mamaku, aku bisa merasakan kepedihan yang di alami mamaku.
saat itu juga, aku berniat untuk pulang. untuk meredakan problema yang terjadi di keluargaku. aku merasa harus bertindak cepat, sebelum semuanya terlambat, hingga terjadi sesuatu yang tak ku inginkan.
untungnya aku sedang libur, cukup lamalah untuk bisa meredakan situasi di rumah. aku yang niatnya gak pulang di liburan semester ini, bisa gak bisa harus pulang secepatnya. harus, jika tidak, suasana di rumah makin parah.
Aku sedih, miris, prihatin, benci, jengkel, dan semua perasaan negativ menyatu dalam hatiku. entah, sejak mendengar curhat mamaku, rasa ingin pulang kian menggebu. dan rasa intu kini telah sampai di ubun-ubun. namun aku harus bersabar, aku gak boleh grasa-grusu sampai akhirnya gegabah. dan itu yang akhirnya membuat semuanya terjadi gak seperti yang ku inginkan.
Aku tenangkan hatiku. sejenak ku hela nafas panjang dari rongga dadaku untuk menenangkan hati. ku keluarkan berlahan-lahan sambil ku nikmati. aku bergerak melangkah pasti, namun penuh kehati-hatian.
ku lupakan sejenak problema dalam keluargaku. aku ingin menikmati sejenak liburanku di sini. dan besok, saatnya buat beli tiket untuk pulang. dan ku berharap, semua akan baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar