PERJALANANKU utuk IMADA

“Aduh..... lama sekali sih mobil gak lewat lewat........” keluhku yang sudah hampir satu jam untuk menunggu mobil yang biasa ke palembang. Akhirnya kesabaranku berujung juga ketika sebuah mobil travel bertuliskan IFS di kaca depan berhenti di hadapanku.

“kemana dek...” tanya sopir mobil padaku

“peninggalan kak...”

“payo naek...”

Aku langsung naik mobil dan meletakkan pantatku di kursi mobil bagian depan, tepat di belakang sopir. Aku mengeluarkan handphone ku, dan ku kirim sebuah sms untuk pak Topik,”saya sedang menuju peninggalan pak..”

“Oke” sebuah balasan dari pak topik.

Sengaja aku hanya naik mobil sampe peninggalan, setelah itu aku ikut mobil pak topik yang akan pulang ke palembang, dengan tujuan biar dapet gratis, itung-itung bisa ngirit ongkos.

Aku sampai di peninggalan tepat setelah pak topik selesai mengajar, jadi aku gak perlu nunggu lama-lama.

“do, ayo ke sana dulu, kita sholat dulu”

“iya pak”

Aku bergegas mengikuti pak topik menuju sebuah kos-kosan mungil di ujung jalan.
Selesai sholat, pak topik langsung mengajakku untuk berangkat. Ada dua orang teman guru pak topik yang juga ikut nebeng ke palembang, mungkin pikirannya juga sama dengan aku, biar dapet gratis.

Di palembang aku turun di depan masjid agung SMB II, masjid terbesar di kota palembang. Sengaja aku turun di situ, karena sebelumnya aku ada janji untuk bertemu si Pulung, salah seorang temanku satu kampus di bekasi.

Tak terasa perutku keroncongan, menuntut haknya, karena dari pagi belum di isi makanan. Ku langkahkan kakiku menuju sekitaran ampera, Aku mencari warung makan di sekitar ampera. Aku duduk di sebuah warung ayam bakar. Lalu ku pesan satu porsi untukku.

Warung itu tepat sekali berada di bantaran sungai musi, hanya di batasi tembok tebal namun tak terlalu tinggi, hingga anak kecil pun bisa naik dan duduk di atasnya untuk menikmati keindahan sungai musi. Aku tepat berada di situ, mataku memandang kekiri ke kanan, dan sekitarnya. Ku lihat dari kejauhan tampak banyak kapal-kapal besar yang sedang berlabuh, banyak juga perahu-perahu kecil yang berkeliaran mencari penumpang untuk di seberangkan ke ulu. Ada juga sekumpulan speedboat tepat di bawah jembatan ampera, yang sedang menanti penumpang untuk menuju jalur, sebuah daerah transmigrasi yang dulu hanya bisa kesana menggunakan speedboat, namun sekarang bisa melalui jalan darat.

Mataku berhenti pada dua tiang jembatan ampera. Tak terlalu tinggi, namun jika di pandang dari kejauhan tampak begitu cantik. Itulah jembatan ampera yang menjadi ikon kota palembang. Sudah cukup tua ku lihat jembatan ini, kadang ku lihat lubang-lubang di badan jembatan karena termakan usia, lampu-lampunya ada yang hilang, mungkin banyak di curi oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Di bawahnya ada empat tiang penyangga yang tepat berada di atas sungai musi, dua tiang yang paling tengah sampai menjualang ke atas.

Dulu jembatan ini gagah sekali, bahkan lantai tepat di tengah-tengah jembatan bisa di angkat jika ada kapal besar mau lewat, namun sekarang sudah tidak bisa, mungkin mesin pengangkatnya sudah rusak, atau kondisi jembatannya yang sudah tidak mungkin untuk bisa di angkat.

Ayam bakar pesananku sudah siap, saatnya aku makan sambil menikmati keindahan sungai musi dan jembatan ampera. Ku kirim sms untuk temanku, uu’ biasa dia di panggil. Uu’ kuliah di sebuah universitas swasta di kota palembang, dulu dia teman sekelasku di SMA, hanya saja beda jurusan. Dan sekarang dia tinggal di plaju.
“cok, aku lagi makan di bawah ampera, ndang datang ke sini” aku mengirim sms untuk uu’.

“yo, tunggu ja, aku segera ke sana”

Tak lama uu’ muncul dari keramaian orang-orang di skitar situ. Tepat setelah aku selesai makan.

“hai bro..... apa kabar...?” tanya uu’ padaku.

“ya seperti yang kau liat ini, aku masih kayak dulu”

“udah lam nunggu?”

“lumayan lama sih” jawabku.

Aku asyik ngobrol sama uu’ ngalor ngidul. Tiba-tiba handphone ku berbunyi, si pulung sms ternyata.

“do, aku dak biso ke sano, katek motor. Motornyo di bawa papa ku, lum balek sampe sekarang. Besok bae kito ketemuannyo jam 11 yo”

“ok deh, besok jam 11, di benteng yo” balas ku.

“iyo” Balas pulung

Uu’ mengajakku jalan sebentar ke benteng kuto besak, sebuah benteng peninggalan belanda yang masih berdiri kokoh di dekat sungai musi. Tak jauh juga letaknya dari jembatan ampera, hanya dengan jalan kaki pun sampai.

Aku dan uu’ duduk di tepian pagar pembatas, sambil memandangi sungai musi, aku membayangkan masa laluku, ketika aku akan mendaftar kuliah di sebuah universitas negri impianku di kota ini. Namun itu hanya sebatas mimpi. Karena orang tuaku tak pernah menyetujuiku.

Uu’ sibuk mengutak-atik hp antiknya, di belakangku. Sementara aku masih asyik mengingat masa laluku. Sesekali ku lihat banyak sepasang sejoli yang sedang duduk bermesraan, aku geli melihatnya. Aku juga pernah merasakan seperti mereka, ketika aku masih memiliki cinta, sebelum ia pergi. Ada beberapa pengamen yang kadang mengganggu keasyikan para sejoli itu. Aku pun beranjak pergi ketika ada pengamen hendak datang padaku, karena aku paling benci sama pengamen.

“kalau kau ke sini, sama siapa cok..?” tanyaku pada uu’.

“dewe’anlah, mau sama siapa lagi” uu’ menjawab sekenanya.

“tapi asyik ya di sini, kayaknya aku mau nikmati sunset deh”

“yo payo, gek kito pulang sore bae. Dah mulai rame ne, Cuma kito bae yang katek pasangan”, uu’ mulai mengeluh.

“halah, cuek bae”


******


Matahari mulai menyingsing ke barat, langit berubah warna menjadi merah, dan hari mulai beranjak gelap. Lampu-lampu jalanan mulai menyala, indah sekali. Ampera menmpakkan keanggunannya dengan hiasan lampu warna wari, meski ada beberapa lampunya yang hilang. Aku melintasi di atasnya sambil menikmati pemandangan yang hanya ada di kota palembang. Uu’ mengajakku jalan kaki dari benteng sampai tempat kosnya. Dia bilang dekat, aku ikut aja.

Ku kira benar-benar deket, tapi sampai kakiku pegal belum nyampe juga.

“mana cok, jauh kali kos kau” aku mulai mengeluh

“bentar lagi, deket lampu merah itu nah..”

“beli gorengan dulu yok, katek makanan di kosan”

“yo payo, nih duitnyo” aku sambil memberi selembar lima ribuan.

Akhirnya sampi juga di tempat kos uu’, cukup mungil, namun begitu bersahaja. Hanya satu kamar, di pojok ada sebuah meja berbentuk bundar, seperti tampah, di atasnya ada megic com mungil biasa di gunakan untuk memasak. Ada dua lemari di sudut kanan, satu buat tempat pakaian, dan satu lagi buat tempat buku. Ada satu lagi lemari besar berisikan perabot rumah tangga, yang ternyata punya pemilik kos-kosan. Di samping kiri hanya ada satu jendela sebagai ventilasi. Nyaman sekali. Pantes aja uu’ betah di kosan.

Aku langsung membuka bajuku, panas sekali hawa di sini. Begitu juga uu’. Aku dan uu’ makan gorengan yang tadi di beli di abang gorengan. Sambil menikmati gorengan, uu’ merebus air untuk buat kopi.

Du gelas kopi telah siap saji, aku menyeruput perlahan-lahan. Sruuup....... nikmat sekali rasanya.

“kebetulan kau ke sini, besok ada kumpul IMADA di masjid sampurna igama plaju” uu’ memulai percakapan

“kumpul apo dio tu..” tanyaku gak ngerti

“pemberian motivasi, tu undangannya” jawab uu’ sambil menyerahkan selembar kertas padaku.

“sapo pematerinya cok ?”

“dak tau”

“eh, paicong ngekos di mano?” tanyaku

“dia di sekretariat PMI, kan dio jadi ketua PMI di kampusnya”

“o, kalau doyok?” tanyaku lagi

“kalau doyok di perum”

“siti masih di kosan yang dulu?”

“dak dio la pindah di silaberanti”

“maen ke sano payo” ajakku

“nian nak ke sano?”

“Yo payo”

“sms dulu siti, ado di kosan idak”

“laju kau yang sms”

Uu’ mengambil hp nya, lalu mengirim sebuah sms untuk siti. Namun lama sekali gak di balasnya.

“aku nak mandi dulu yo cok, dak lemak ne badan aku bekeringat”

“lajulah, tu mumpung kosong kamar mandi”

“mano handuk kau, pinjam aku”

“nah pake sarung bae, handukku kotor”

“mada’i pake sarung oy....”

“dak apolah”

Aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku.
Selesai mandi uu’ langsung mengajakku ke kosan siti. Uu’ menelpon seseorang, “lagi di mana mba’?" tanya uu’.

“di kosan aja. Napa?” tanya seseorang di seberang sana

“siti ada?” tanya uu’ lagi

“siti masih kuliah, tar jam 8 dia pulangnya”

“o, ada sapa aja di situ?”

“banyak, ada lela, nila, dwi”

“q mau maen ke situ, tunggu bae yo, ada orang jauh mau maen”

“orang jauh siapa u’?”

“dah, tunggu aja, tar juga tau. Udah gitu aja ya”

“iya”

Uu’ mematikan hp nya, lalu memasukkannya dalam saku celananya.

“siapa cok?” tanyaku

“mba’ hasna, sitinya masih kulia do, jam 8 dia pulang”

“jadi ke sano dak? Tanyaku

“yo payo”

Kami lalu naik angkot untuk bisa sampe ke tempat siti. Cukup jauh kalau harus jalan kaki. Turun dari angkot masih harus nyeberang jalan, karena kosan siti ada di seberang. Aku berjalan beriringan dengan uu’. Aku di depan, dan uu’ di belakangku. Di persimpangan, aku menoleh ke belakang. Uu’ gak ada di belakangku. “kemana dia?” fikirku dalam hati.

Ku temukan dia sedang asyik ngobrol sama dua orang cewek. Aku sendiri tak mengenalinya. Ku biarkan uu’ ngobrol dengan dua cewek itu di bawah sebuah pohon besar di pinggir jalan, aku hanya menunggu di dekat trotoar. Buat apa aku ikut nimbrung, toh gak kenal juga aku sama dua cewek itu. Lama juga uu’ ngobrol sama dua cewek itu, ku dekati mereka. Tapi aku tak ikut nimbrung, aku hanya mendekat aja, diam tak berkata apa-apa. Aku hanya mengangguk ketika uu’ mengenalkan aku pada dua cewek itu. Selanjutnya, mereka ngobrol lagi tanpa mempedulikan aku.

“payo do” uu’ mengajakku beranjak pergi.

“udah?” tanyaku

“udah, “

“temen sekelas kau?” tanyaku lagi

“bukan, dio tu dulu sekelompok ma aku ketika ospek. Aku bae dak kenal dio, tapi dio masih kenal aku”

“O”

“kata kau cakepan yang mano do?”

“kataku ma cakepan yang keci’”

“hu... mun kataku cakepan yang tinggi itu, bulan namanya”

“lho, kau kan tanya cakepan yang mana, mun aku jawab yang keci’ kan hak aku donk..?”

“iyolah, “

“kau dak tanyo kosnyo di mano”

“tau aku, di silaberanti, deket lapangan futsal biasa aku maen”

“yo dem, samperinlah ke sano, jadiin nian”

“gek lah, kapan-kapan bae”

“gek keburu di ambek wong”

“bia’i lah”

“napo tadi aku dak minta no hp nya yo?” uu’ sambil menepuk jidatnya

“ai.... dodol nian kau ne...”

“ah, demlah...”

Masih jauh kosan siti ne? Tanyaku

“dak, bentar lagi”


Sampai juga di kosan siti. Tapi kosannya gelap, kayaknya dah pada tidur. Uu’ mengetok pintu dan mengucap salam. Aku menunggu di luar pagar, sengaja biar jadi kejutan. Dari dalam ternyata ada yang mengintip. Mba’ hasna langsung berteriak ketika melihatku dari dalam sambil menyalakan lampu.

“hahahaha...... ridho......., kirain orang jauh siapa tadi u’....”

“ya kan tadi aku dah bilang, orang jauh mau dateng”, uu’ menjawab sekenanya

“hah..... ridho...?” suara dari dalam bersahutan, seolah tak percaya kalau aku beneran datang ke palembang.

“mana ?” suara siti terdengar sampi ke luar

“hah...... kok kamu ke sini sih do...?,kapan datang? ada acara apa?, kangen sama aku ya?” tanya siti tanpa henti.

“tadi sore datengnya. Cuma main aja, lagian aku juga lagi liburan”

“lho... katanya kamu lagi kuliah ti?” tanyaku

“udah pulang tadi jam setengah 8, pas uu’ sms tadi aku di jalan mau pulang. tadi sore kan gak ada dosennya, ku tinggal pulang, trus temenku sms katanya dosennya dateng, aku langsung lari ke kampus”.

“yang lain pada kemana ti?” tanya uu’

“lagi pada ke warnet tadi, ngerjain tugas” jawab siti sambil membenarkan jilbabnya.

“kok kamu tambah gemuk aja sih do..., gondrong lagi” siti kembali memulai obrolan

“perasaan biasa aja deh, gak ada yang berubah, tambah jelek ya...?”

“gak lah”

“doyok tadi baru aja dari sini do”

“suruh ke sini lagi aja ti”

“nantilah, ya kalau dia mau. Kebetulan banget do kamu datang, besok ada kumpul IMADA, kamu harus datang lho...”

“acara apaan sih itu...?”

“ya... kumpul mahasiswa alumni DA sambil pemberian motivasi gitu”

“tapi aku kan gak dapet undangan”

“ni kak tak kasih undangan, tapi jangan di baca untuk siap ya?” lela mulai ikut ngobrol sambil menyerahkan selembar undangan yang belum sempat di sebar.

Ku baca undangan itu.
“lho.... kok suruh bayar sepuluh ribu? Gak dateng ah kalu suruh bayar, hehe..”
kataku sambil bercanda.

“eh, enggak, itu hanya buat tuan rumah. Kalau kamu kan tamu, jadi kamu gratis deh...” mba’ hasna menimpali.

“hahaha.... kirai bayr beneran....” kataku

“u’ besok harus dateng lho.... ajak teman kamu selaim IMADA” siti menunjuk uu’.
“ya, besok aku ngajak ridho”

“ye.... ridho kan IMADA juga, teman yang kamu kenal selin IMADA” mba’ hasna menimpali.

“siapa?, aku dak banyak yang kenal” jawab uu’

“ya siapa aja” jawab siti.

Uu’ hanya diam aja, tangannya memengang cemilan yang di hidangkan sambil memasukkanya ke dalam mulut.

“kamu nginep tempat uu’ do? Tanya siti

“iya” jawabku singkat

“ne paicong nelpon” kata siti.

“halo, assalaamu’alaikum”

Siti ngomong sama paicong suruh dateng ke kosannya sampai merayu paicong. Paicong sampai luluh oleh rayuan siti.

“apa kata paicong ti? Mau ke sini dia?”

“iya, paicong ke sini, tapi mau ngambil LCD dulu katanya buat acara besok”

“o, kebetulan donk cok, nanti kita minta anter paicong aja” kataku pada uu.

“lho.... kak ridho ini kan?” dwi yang baru pulang dari warnet kaget ketika melihatku. Begitu juga nila yang dari tadi hanya mesam-mesem saat melihatku.

“apa wi....? kaget ya...? kataku

“beneran kak ridho bukan sih...? dwi seperti tak percaya.

“ah, kamu ne wi, lebay banget”

“iya lho, kayak bukan kak ridho” dwi makin ngelantur.

Tak lama paicong datang dengan seorang temannya. Aku tak mengenalnya, mungkin teman satu jurusannya.

“lho..... ridho toh....? kapan rene njul?” tanya paicong.

“tadi sore cong” jawabku. Paicong masih saja panggil aku panjul, sperti ketika aku masih duduk di bangku SMA.

“libur po njul?”

“iyolah cong, kalau gak libur ngapai aku k sini”

“di tempat sapo di palembang njul?”

“di kosan uu’,”

“kebetulan cong, tar anter kita pulang, dah malem kan ga ada angkot”

“iyolah, gek ku antar njul”

“siiplah kalau gitu”

Picong lalu menelpon temennya supaya datang ke kosan siti, suruh bawa temennya yang tadi datang sama paicong. Paicong serius mau anter aku dan uu’.

Entah sampai jam berapa aku ngobrol di kosan siti, sampai aku enggak ngerasa kalau udah malem. Ngobrol ngalor ngidul, dan kadang ngobrolin cerita semasa SMA. Asyik juga, jadi seperti reuni kecil.

Entah jam berapa, dan yang pasti udah malem banget, aku pamit pulang ke kosan uu’. Paicong mengantarku sampai depan showroom honda. Satu motor bertiga. Udah malem juga, gak bakalan ada polisi yang berkeliaran. Dan setelah itu aku berpisah dengan paicong. Tak lupa juga ku ucapin terimakasih.

Sampai di kosan uu’ rencananya mau langsung tidur, badan ku pegal-pegal, di tambah kaki rasanya linu banget setelah tadi sore jalan dari benteng ke kosan uu’. Ku buka bajuku, lalu aku menggelar kasur kesayangan uu’, apek baunya kayak gak pernah di jemur. Sementara uu’ sibuk merebus air untuk buat kopi.

Ku letakkan tubuhku di selembar kasur itu, uu’ sibuk keluar masuk kamar mandi, gak tau apa yang dia lakuin. Tak lama air udah mendidih, uu mengeluarkan dua bungkus kopi susu siap saji. Tak lama pun kopi telah tersaji.

Aku menikmati kopi buatan uu’ hangat-hangat. Memang nikmat.

Sambil menikmati kopi, ku tagih janji uu’ buat ceritain masalahny. Uu’ sempet menolak, namun ku paksa sampai akhirnya dia mau juga buat curhat sama aku. Masalah yang benar-benar pribadi. Ya, masalah cinta.

Uu’ bercerita habis sampai aku benar-benar mengerti permasalahannya. Ketika uu’ bercerita seperti itu, aku jadi teringat problemku yang dulu. Hampir mirip seperti uu’. Hanya saja permasalahannya agak sedikit berbeda, namun ujungnya sama, di hianati.

Setelah uu’ bercerita, uu’ juga mulai menginterogasiku. Sampai aku terpaksa menceritakan masalahku yang lalu. Dan kami sama-sama berjanji untuk tidak menceritakan pada siapapun sampai kapanpun.

Ku laht jam sudah menunjukan jam dua dini hari. Aku memaksa uu’ untuk berhenti ngobrol. Namun uu’ masih saja ngoceh hingga memancingku untuk menyahuti omongannya. Ada saja omongan yang menggagalkan tidurku. Ketika aku mau pejamkan mataku, uu’ ngoceh hal aneh yang buat aku gak jadi tidur. Begitu juga ketika uu’ mau tidur, aku mengeluarkan pernyataan yang memancing obrolan baru, hingga gagal lagi untuk terlelap.

Kurang lebih jam empat subuh aku baru bisa tidur. Aku tak lagi mempedulikan uu’ yang masih saja ngoceh sendiri. Akhirnya dia ikut tidur juga.

Jam tujuh aku terbangun, karena terdengar hujan bergemuruh di luar. Aku menuju kamar mandi untuk cuci muka. Tak lama uu’ juga terbangun. Aku merebus air untuk buat kopi.

“jadi dak hadir di acara IMADA?” tanyaku pada uu’.

“jadi, tapi aku mau ke benteng dulu, ambil kiriman, kau tunggu di sini bae ya”

“oh, ok deh, tapi jangan lama-lama lho..”

“idak, kalau speed nyo dah dateng yo langsung pulang”

“aku berangkat dulu do...”

“yo, hati-hati be, cepet yo” kataku sambil melihat uu’ berlalu.








BERSAMBUNG.......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU