MAU DIBAWA KEMANA
Kupandangi langit yang tak berbintang, gelap gulita yang terus gempita. Malam ini terasa sunyi sepi, hanya kilauan lentera kulihat dari kejauhan, dentuman kodok mengiringi alunan jangkrik, bersahut-sahutan penuh irama. Kugenggam tanganku sendiri terasa dingin, angin malam mengusik lamunanku hingga badanku menggigil. Masih kupandangi awan hitam pekat yang menyelimuti malam ini, berharap ada satu bintang yang berpijar terang menemani malamku.
Aku terus mengais malam, meski dingin menyelimutiku hingga perutku mual, aku tak terusik sedikitpun, masih ku genggam erat tanganku, dengan bahuku kuletakkan kesetiaan pada malam, dan ku rengkuh sejuta harapan yang masih menggantung di awang-awang.
Andai malam ini penuh bintang, akan ku tulis berjuta puisi untuknya, akan ku raih bintangku untuk kubawa pulang, ku simpan di tepian hati, ku jaga penuh perhatian, kan ku songsong hari esok penuh harapan.
Bintangku tlah ku raih, bintangku tlah ku pilih, namun sesungguhnya tak bisa kumiliki seutuhnya, tak bisa ku dapati dengan sempurna. Masih ku raba seberapa besar hati ini mencintainya, seberapa jauh ku bisa melangkah bersamanya, seberapa lama aku bisa memilikinya, meski tak seutuhnya. Ternya tak terukur, tak bisa diraba, tak bisa disentuh, tak bisa di takar. Hati ini terlalu mencintainya, Tak akan rela melepasnya begitu saja, apapun alasannya.
Kilauan asmara itu kian membara, meski tak atu mau dibawa kemana hubungan yang telah tercipta. Kadang aku merasa kecil, merasa bahwa semua ini hanya sia-sia, aku merasa semua ini hanya lukisan cerita malam yang suatu saat akan pudar oleh kilauan fajar menyingsing. Namun aku bertahan, semampuku akan kupertahankan, meski hati tak selalu gembira, namun kuyakin suatu saat akan ada ujungnya.
Hati ku memang bukan terbuat dari besi dan baja, yang mampu menahan berbagai tempaan, hatiku juga peka terhadap berbagai hal yang menyangkut perasaan, namun ku coba menyikapinya dengan sederhana, tak perlu berlebihan. Aku sadar, aku tak bisa selamanya begini. Namun untuk saat ini, aku butuh seseorang yang benar-benar sayang dan perhatian padaku. Semua itu aku dapatkan darinya, bintang yang kedipnya selalu menyilaukan mataku.
Malam terus beranjak larut, kabut hitam mulai turun ke bumi, awan hitam pun masih menyelimuti langit yang tak berujung. Disekelilingku hanya ada delapan buah kursi dan dua buah meja, di salah satu meja kuletakkan sebungkus rokok, secangkir kopi, dan sebuah asbak hijau muda untuk meletakkan abu rokok. Ku nyalakan sebatang rokok untuk mengurangi hawa dingin yang telah menyelimutiku dari tadi. Pushhhh....... terasa nikmat kurasakan.
Mataku memandangi sekeliling, hanya langit gelap yang nampak di hadapanku. meski rumah ini terang, namun nampak gelap dari kejauhan. Dari sudut hatiku, ada sebongkah rasa yang sulit untuk ku ungkapkan padanya. Entahlah, aku tak tega membuatnya kembali dalam kebimbangan. Meski itu menyakiti diriku sendiri. Mungkin ini rasa yang benar-benar sulit diungkapkan, hanya aku sendiri yang bisa merasakan.
Aku menyadari betul akibat semua ini, tapi aku tak bisa menghindar darinya, dan aku pun membutuhkannya setiap saat. Aku sudah terlalu jauh masuk dalam kisah ini. Kisahku ini, mirip sekali dengan novel yang pernah kubaca. Ternyata seperti ini rasanya.
Aku berusaha menikmatin ini semua, biarkan waktu yang menghentikan kisah ini, aku tak mau mengakhiri. Karena itu sangat menyakitkan. Jika keadaan yang memaksa menghentikan kisah ini, ku harap tak sesakit yang kukira.
Dunia memberikan berbagai keindahan, hingga manusia terlena akan keelokannya. Meski kadang keindahan itu beresiko, tapi tetap saja banyak yang melakukannya. Kecenderungan itu karena hampir semua orang menginginkan keindahan.
Aku tersadar dari lamunanku ketika rokok ditanganku telah habis, hingga apinya merembet ke sela-sela jemariku. Namun kunyalakan kembali sebatang rokok yang lain, kuhisap penuh hikmat.
Mau dibawa kemana ?
Itu pertanyaan yang sering menggantung difikiranku. Namun tak jua kutemukan jawaban pasti. Saat ini pun aku masih memikirkan itu, berharap malam memberikan jawaban, atau setidaknya ,memberikan sedikit pencerahan. Tapi malam semakin pekat, dan tak mampu memberi pencerahan, tapi malah memberikan kegelapan yang teramat sangat. Galau rasanya hatiku.
Komentar
Posting Komentar