MISTERI RAWA MUJAKIR

Dedaunan berguguran dikala kemarau datang. Pohon-pohon mulai merangas menampakkan taringnya, seakan menampakkan kemarahannya pada awan. Burung-burung bernyanyi tak semerdu kala musim hujan, namun cukup nikmat didengar oleh telinga. Bersiul, bercengkerama diatas ranting yang telah tanpa daun sambil menikmati sore yang lumayan santai.

Sungai dibelakang rumahku telah surut, airnya pun tak lagi sejernih dulu kala hujan masih menyirami. Kemarau kali ini benar-benar membuat penduduk kampungku kewalahan mencari air bersih. Sumur-sumur telah mengering, sungai pun telah surut, rawa juga telah berubah jadi lumpur. Tak ada lagi air bersih ditemukan. Hanya ada satu sumber air yang tak pernah kering dikampungku, dialah rawa mujakir.

Rawa mujakir terkenal angker dikampungku, karena satu-satunya sumber air yang tak pernah kering sepanjang musim kemarau. Selain itu, mistis yang beredar dimasyarakat pun banyak mempengaruhi sisi keangkerannya. Pernah suatu hari ada dua orang yang memancing di rawa tersebut. Meskipun banyak riak ikan berkelebetan di air tapi tak satupun yang memakan umpan pancing. Malahan salah satu diantara pemancin melihat kerangka ikan berenang di air. Kontan saja orang tersebut langsung lari tunggang langgang.

Pernah juga ketika kemarau dahulu, seorang warga berniat menguras rawa tersebut menggunakan mesin diesel untuk mengambil ikan-ikan di rawa tersebut. Namun, dua mesin diesel yang digunakan tak mampu mengeringkan rawa tersebut dalam dua hari dua malam. Akhirnya kegiatan trsebut dihentikan tanpa hasil.

Masyarakat dikampungku pun percaya di rawa tersebut terdapat lumpur hidup yang dapat menarik apapun ketika menyentuh lumpur rawa itu. Sampai saat ini, kepercayaan itu tak hilang, bahkan diwariskan turun temurun.
Cukup lama tak ada seorang pun yang berani mendekati rawa tersebut. Selain angker, disekitar rawa juga banyak terdapat ular berbisa.

Setelah perkebunan kelapa sawit masuk kampung ku, perlahan-lahan keangkeran rawa tersebut mulai berkurang. Karena rawa tersebut juga masuk dalam areal pembangunan perkebunan, sehingga kebersihannya terjaga. Bahkan disekitar rawa tersebut juga ditanami kelapa sawit.

Ketika sawit masuk, rawa-rawa lain mulai mengering akibat dari penyerapan besar-besaran sawit terhadap air. Namun tidak terjadi dirawa mujakir, rawa tersebut tetap berlimpah air dan tak pernah mengering meskipun musim kemarau panjang.

Nah, kemarau panjang kali ini warga dikampungku kesulitan mencari air bersih. Akhirnya warga memanfaatkan air rawa mujakir untuk kebutuhan sehari-hari. Ada yang mengambil menggunakan jerigen, gentong besar dengan mobil dan semua cara dilakukan untuk mengangkut air ke rumah. Tiap hari diambil airnya oleh penduduk, air rawa tersebut tidak kering bahkan tidak berkurang sama sekali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU