Suatu Perasaan

Aku menemukanmu pada saat aku sedang terjatuh. Saat dimana aku baru saja kehilangan orang yang selama ini mengisi hari-hariku. Aku berharap kau dapat mengisi kekosongan itu, membawa hawa baru dalam hidupku seperti layaknya angin yang menerpa air laut dan menjadikannya gelombang. Itu sebuah cerita lama masa kecil yang akan terulang lagi. Saat kau befikir lagi ingin menjalani kisah denganku.

Namun yang masih kuragukan, kau masih memiliki tambatan hati selain aku. Aku tak mau menjadi duri dalam hubungan itu. Itu sebuah ilusi yang membosankan ketika kau biarkan dirimu dengan pikiranmu menari-nari pada gerimis yang kau sebut cinta. Dan cintamu adalah gerimis pagi yang mengayun landai dari permukaan tanah, hingga menyeberangi batas fikiran. Itu sebuah cinta yang menghipnotis akal sehatmu untuk melawan sebuah kepastian yang telah tampak nyata. Kau tak bisa pungkiri itu.

Aku tau, kau mencintaiku tanpa alasan. Namun yang harus kau mengerti, dengan siapa kini kau menjalani hubungan, bukan danganku. Namun kau memintaku untuk selalu bersamamu, dan disisi lain kau juga bersamanya. Itu seperti kelopak yang mekar lalu terjatuh oleh tiupan angin dan menempel pada dua sudut jamur, keduanya saling menarik dan saling membutuhkan.

Aku memang mencintaiku, sejak pertama kali kukenal dirimu sepuluh tahun silam. Saat kita masih polos, lugu dan belum mengerti tentang cinta. Namun perasaan itu muncul dengan sendirinya saat kau dan aku tak lagi bermain bersama. Rasa rindu padamu selalu muncul sepuluh tahun lamanya.

Pernahkah kau ingat, saat kita sering berlarian, berkejaran menangkap belalang, bergurau, bercanda dan berenang di sungai dekat kebunmu ? aku masih ingat itu. Saat kau mendorongku dan menceburkanku ke sungai, karna aku takut akan derasnya arus. Kulihat tawamu menggelegar melihat aku yang hampir tenggelam, dan itu membuatmu senang.

Meski kini kau dan aku masih sama-sama saling menintai, tapi kita tak bisa bersatu.Kau punya janji dengan yang lain.

“Aku tak mungkin memilikimu seutuhnya, karena itu aku tidak pernah berharap” Kau kembali dengan percakapan yang mengundangku tertawa sendiri.Saat gerimis yang kuciptakan sendiri di kepalaku berjatuhan, dan aku bebas melihat wajahmu dari balik gerimis yang kosong. Kau tau itu? itu sebuah imajinasi yang muncul begitu saja, saat wajahmu benar-benar bergelayut dibenakku.

“Aku tak mungkin membiarkan perasaan ini menyiksa ku. Kau sudah menceritakan semua yang membuatku merasa tak pantas memahami seutuhnya arti cinta. Namun aku hanya akan meninggalkan luka yang tak terobati ketika di sepanjang jalan yang berdebu kau mengubur dalam-dalam jarak ini”.

Aku sempat menyesali, kenapa kau dan aku dipertemukan disaat kau ada yang memiliki. Untuk apa semua ini ?

“Lalu kau mencintaiku untuk tidak memilikiku?”

Aku tlah lama mengenalmu, namun baru kuketahui sifatmu kali ini, kau egois. Kau memberiku harapan kosong yang kulantunkan disetiap nafasku. Kau memberi jarak dalam derapnya alunan tangismu, seolah aku tak berperasaan. Kau mempersepsikan semua ini dengan hati nanar, bagai kelopak mawar menggantung diantara dedaunannya. Hanya saja,duri mawar tak setajam hatimu menganalisa semua kehidupanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU