SOSIALISASI UNTUK DIRIKU
Andai ku tulis semua unek-unekku,
mungkin tak akan cukup untuk kutuliskan dalam lembaran-lembaran kertas putih
ini. Aku berulang kali jatuh dalm lubang yang samam. Apakah ini kebodohanku? Atau
hanya kesialanku? Entahlah, yang pasti aku tak bisa menghindar darinya.
Disaat semua teman-temanku
merasakan kegembiraannya karena lulus dalam ujian sidang, aku tak merasakan
kegembiraan itu. Meskipun aku sendiri juga lulus dengan hasil yang tidak
mengecewakan. Namun aku masih dipusingkan oleh beberapa revisi yang mengubah hampir
35% kajianku. Ini bukan perkara mudah untukku. Mengerjakan sebegitu banyaknya saja
aku sudah menghabiskan energiku dan waktu yang begitu panjang, apalagi aku
harus merubah sesuatu yang menurutku sudah jadi. Apa yang akan aku kerjakan, dimulai dari mana,
dan hasilnya seperti apa? Belum ada bayangan sama sekali.
Seharusnya aku sudah
menyelesaikannya dengan baik, namun karna sesuatu hal yang membuat semangatku
benar-benar habis aku belum bisa menyelesaikannya. Ini yang membuatku menutup
diri untuk sementara waktu. Aku butuh ketenangan untuk menyelesaikan semuanya. Ada
target yang harus ku capai. Karna itulah aku harus mengerjakan revisi ini
dengan baik.
Aku telah banyak membuang waktu
untuk main game, online, chating, dan browsing di internet yang sebenarnya itu
tidak penting. Namun aku belum bisa mengendalikan egoku untuk terus
bermain-main dengan kesenangan. Aku memang butuh waktu untuk sendiri, sendiri untuk
menyelesaikan kewajibanku dengan pasti. Sebenarnya diluar sana masih banyak
sesuatu yang terus mengganggu konsentrasiku untuk bekerja menyelesaikan revisi
ini, dan aku harus bisa membatasi diri supaya tidak tergoda. Dan aku sudah
membatasi diri dengan dunia luar.
Namun kini permasalahan intern
dalam diriku yang menjadi pengganggu. Ya, dialah perasaanku yang selalu
bermain-main dengan imajiku. Terus bergelayut dalam pelupuk mata yang kian
sendu oleh bintik-bintik kelabu. Sang hati terus memanggil namanya yang
sebenarnya ingin kubuang jauh-jauh. Ingatan pun terus memutar saat-saat yang
begitu mengesankan bersamanya hingga pintu rindu itu kembali terbuka dan terus
memanggil namanya. Aku tak berdaya, ketika rindu itu kembali berkecamuk dalam
dada dan ingin sekali berjumpa dirinya untuk menikmati saat yang pernah
terlewati dengan percuma. Aku sungguh tak berdaya.
Aku memang belum mendapatkan
penggantinya, butuh waktu untuk menghapus namanya dari ingatanku. Apalagi senyum
dan canda tawanya masih membekas di ujung benakku, berayun-ayun dan terus
memanggilku. Dan tak mudah untuk ku isi dengan orang lain untuk
menggantikannya, dan sampai saat ini belum ada yang bisa.
Semua itu mempengaruhi diriku untuk
cepat-cepat menyelesaikan revisiku, dan aku masih belum mengerti apa yang
dimaksudkan oleh pengujiku. Ini sesuatu yang memang butuh tenaga dan fikiran
ekstra. Tak mudah memang, tapi aku yakin bisa menyelesaikannya dengan baik
sesuai waktu yang ditentukan. Meskipun banyak godaan dan permasalahan yang
dapat menghambat kinerjaku, tapi aku akan serius menyelesaikannya. Aku butuh
waktu untuk sendiri, merenungkan dan menyelesaikan dengan baik.
Komentar
Posting Komentar