DIUJUNG EMBUN PAGI

Malam telah berlalu, selimut kabut masih memenuhi ruang dunia yang semakin kelu. Tak menyana, bahwa setiap alunan nada yang bergaung dimuka bumi memiliki untaian yang tersusun rapi. Laksana penyejuk jiwa yang terus melengkapi kebahagiaan hati. Kabut masih tebal mengiringi setiap jejak langkah yang bertabut rindu, memasuki alam yang tak bernuansa renik dan rintikan embun yang selembut sutera menghardik langkah yang terus berpacu dengan waktu. 

Masih didunia yang fana ini, untaian kelu itu terus bergaung menutupi pandangan yang tak berujung. Suara yang tak lagi tersisa, dan pendengaran yang tak lagi setajam sembilu. Meski rintik embun terus berjatuhan, namun mentari belum menampakkan batang hidungnya. Biarkan terus terlelap dalam mimpinya, sampai dia merasakan betapa jendela hari telah dibuka, dan malam telah berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. mungkin akan terasa ganjil dengan kehadiran kabut putih yang maha lebat ini, siulan burung pun belun jua berbunyi. meski keadaan telah sedikit berubah dalam sekejap, namun tak terjadi pada reruntuhan embun bak salju di tengah iceberg.

Mungkin ini cerita lama yang akan terbuka kembali, saat semua rindu berpacu dengan waktu berlarian kesana kemari dan tak tentu arah. Untuk siapa rindu itu. ?. Saat malam menyapa dengan gemerlapnya bintang-bintang, saat itulah terasa bahwa rindu itu berharga. senja pun tertawa kala mentari terlelap dalam tidurnya sambil mendengkur, karna mentari tak pernah merasakan betapa indahnya malam, yang dia tau hanyalah siang yang sangat melelahkan. Namun malam tak selamanya bersuka, dia tertunduk lesu kala fajar bersemangat menyambut hari baru dengan penuh gairah. Apadaya malam mentari pun kembali terbagun dari mimpi indahnya mengisi hari baru tanpa pernah mengingat hari yang lalu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaya Baru KAKA ALAZHARRY

Peramal Itu Bernama Jumbo

AKU DAN DUNIAKU