Hitungan Tanpa Angka
Suatu ketika tatkala sang surya menapaki dedaunan yang berembun, membangunka pagi yang masih terlelap, mengitari dunia yang masih mendengkur, dan membuka jendela hari dengan semangatnya, saat itu pula si didu dengan segenap semangatnya yang telah pudar berangkat menuju tempat kerja dengan gontai. dia masih memikirkan nasibnya sendiri. fikirannya masih kosong, hatinya masih bergemuruh berperang dengan perasaanya sendiri.
pagi itu memang bukan pagi yang menggembirakan buatnya. masih terngiang jelas bagaimana neneknya dengan tegas melarangnya behubungan denga laki-laki yang selama ini jadi penyemangat kerjanya. Berkat laki-laki itu Didu bersemangat lagi bekerja setelah sebelumnya Didu tak tahan dengan pekerjaanya dan ingin keluar dari pekerjaanya. Namun setelah dia dipindahkan dibagian lain, bertemulah Didu dengan laki-laki kurus, berperawakan gontai, muka yang agak sedikit imut meski agak pahit yang selanjutnya menjadi rekan kerjanya.
Mulailah dia menikmati hari-harinya dengan sedikit berbeda dari sebelumnya. Didu belum memiliki keberanian untuk berkenalan dan mengenalkan diri dengan lelaki itu. Setiap hari Didu selalu mencari alasan agar dapat berinteraksi dengan lelaki itu, hanya dengan sebutan "Pak" sebagai kata ganti karena Didu memang belum mengenalnya.
Didu, perempuan berpasar ayu dengan penampilan sedikit nakal namun masih dalam batas kewajaran selalu bermasalah dengan atasanya. Sebenarnya panggilan "Didu" pun bosnya yang memberikan dengan maksud agar lebih bersahabat, meskid Didu sendiri tak suka dengan panggilan itu. Di kantor, ruangan Didu selalu paling berisik, karena setiap kali didu diajari oleh bosnya selalu banyak cakap yang membuat bosnya kesal. karna itulah dia dipanggil Didu oleh bosnya yang membuat seisi kantor juga ikut memanggilnya Didu. Agak aneh memang, Perempuan cantik tapi panggilanya Didu. ya itulah realita.
Didu adalah perempuan asli kalimantan, baru beranjak dewasa dan baru belajar bekerja. Orang tuanya merupakan ketua adat, anak pertama dari dua bersaudara dengan adik laki-laki. sebenarnya Didu anak yang baik, supel dan gampang bergaul dengan siapapun. Namun ada sedikit masalah dengan cara berbicaranya yang terkesan ceplas ceplos.
Pagi ini tak seperti biasanya, didu melewatkan kebiasaanya dengan atasanya, yaitu berisik dikantor. Didu tampak diam, murung dan tak bersemangat. Guyonan yang dilemparkan bosnya tak ditanggapi, memuai keudara, hambar dan hilang. Atasanya mengerti, dan sangat mengerti. Mungkin karena permasalahan tahun baru itu.
Tahun baru, memang menjadi titik awal perubahanya. Tahun baru kali ini dia habiskan bersama dengan lelaki penyemangat dikantornya. perkenalanya yang singkat mampu membuatnya jatuh hati. tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana tahun baru hanya dia habiskan dikampungnya tak kemana-mana. berkat lelaki itu, Didu dapat menyapa dunia luar yang lebih luas, lebih gemerlap dan lebih indah.
****
Bersambung
pagi itu memang bukan pagi yang menggembirakan buatnya. masih terngiang jelas bagaimana neneknya dengan tegas melarangnya behubungan denga laki-laki yang selama ini jadi penyemangat kerjanya. Berkat laki-laki itu Didu bersemangat lagi bekerja setelah sebelumnya Didu tak tahan dengan pekerjaanya dan ingin keluar dari pekerjaanya. Namun setelah dia dipindahkan dibagian lain, bertemulah Didu dengan laki-laki kurus, berperawakan gontai, muka yang agak sedikit imut meski agak pahit yang selanjutnya menjadi rekan kerjanya.
Mulailah dia menikmati hari-harinya dengan sedikit berbeda dari sebelumnya. Didu belum memiliki keberanian untuk berkenalan dan mengenalkan diri dengan lelaki itu. Setiap hari Didu selalu mencari alasan agar dapat berinteraksi dengan lelaki itu, hanya dengan sebutan "Pak" sebagai kata ganti karena Didu memang belum mengenalnya.
Didu, perempuan berpasar ayu dengan penampilan sedikit nakal namun masih dalam batas kewajaran selalu bermasalah dengan atasanya. Sebenarnya panggilan "Didu" pun bosnya yang memberikan dengan maksud agar lebih bersahabat, meskid Didu sendiri tak suka dengan panggilan itu. Di kantor, ruangan Didu selalu paling berisik, karena setiap kali didu diajari oleh bosnya selalu banyak cakap yang membuat bosnya kesal. karna itulah dia dipanggil Didu oleh bosnya yang membuat seisi kantor juga ikut memanggilnya Didu. Agak aneh memang, Perempuan cantik tapi panggilanya Didu. ya itulah realita.
Didu adalah perempuan asli kalimantan, baru beranjak dewasa dan baru belajar bekerja. Orang tuanya merupakan ketua adat, anak pertama dari dua bersaudara dengan adik laki-laki. sebenarnya Didu anak yang baik, supel dan gampang bergaul dengan siapapun. Namun ada sedikit masalah dengan cara berbicaranya yang terkesan ceplas ceplos.
Pagi ini tak seperti biasanya, didu melewatkan kebiasaanya dengan atasanya, yaitu berisik dikantor. Didu tampak diam, murung dan tak bersemangat. Guyonan yang dilemparkan bosnya tak ditanggapi, memuai keudara, hambar dan hilang. Atasanya mengerti, dan sangat mengerti. Mungkin karena permasalahan tahun baru itu.
Tahun baru, memang menjadi titik awal perubahanya. Tahun baru kali ini dia habiskan bersama dengan lelaki penyemangat dikantornya. perkenalanya yang singkat mampu membuatnya jatuh hati. tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana tahun baru hanya dia habiskan dikampungnya tak kemana-mana. berkat lelaki itu, Didu dapat menyapa dunia luar yang lebih luas, lebih gemerlap dan lebih indah.
****
Bersambung
Komentar
Posting Komentar