Hitungan tanpa angka Part 2
Siang terasa sangat panas dari
biasanya, motor-motor diparkiran tanpa atap seperti kekeringan seolah meronta
ingin diteduhkan. Jalanan tampak berdebu menambah penatnya siang ini, truk-truk
silih berganti melintasi jalanan yg berdebu, ada truk pengangkut sawit, truk
pengangkut tandan kosong, truk pengangkut CPO, dan kendaraan lainya membuat
suasana siang ini semakin panas dan melelahkan.
Didu menuju parkiran untuk
mengambil motornya dan bergegas pulang untuk beristirahat. Hatinya masih kelu
memikirkan kejadian yang sebenarnya tidak dia harapkan. Sesuatu yang seharunya
menggembirakan berupah menjadi semakin tak jelas dalam waktu singkat. Andai
didu menjaga perasaanya kepada lelaki itu dengan sabar, mungkin hasilnya akan
berujung manis. Namun kenyataanya didu tak mampu bersabar. Perasaanya semakin
tak jelas setiap lelaki itu memandangnya dan menghiasi pikiranya. Didu tau,
sebenarnya perasaan itu tak boleh ada dalam hatinya, namun apa daya, didu hanya
perempuan desa yang tak tau bagaimana menyimpan hasrat yang telah membara.
Meskipun disisi lain didu sudah ada yang memiliki, namun hasrat untuk memiliki
lelaki itu jauh lebih besar dibanding hasrat untuk menahanya.
Didu menyalakan motornya,
menembus jalanan berdebu dengan tangan memegang kendali setir. Jemari tanganya
masih terasa kaku saat kehujanana tempo hari. Meski sebenarnya didu menikmati
perjalanan itu, tapi badanya selalu tak bersahabat.
Sampai dirumah didu merebahkan
badanya diatas tempat tidur, memejamkan matanya sejenak, melepas lelah.
Jam dua kurang lima menit didu
sudah bersiap untuk kembali ke kantor, waktu istirahatnya terasa sangat
singkat. Didu terbangun dari mimpinya saat mini membangunkanya. Mini adalah
teman satu rumah didu yang tinggal diperumahan perusahaan.
Sampai dikantor, didu sudah
ditunggu tugas yg belum terselesaikan. Bosnya belum tampak dikantor, itu artinya
masih ada waktu buat didu bersantai meski kerjaanya sudah harus dikerjakan.
Lima menit cukup untuk didu sejenak melamun. Tanganya meraih dokumen yang mesti
didu selesaikan karena sudah ditunggu manager sore ini. Sebentar-sebentar mata
didu menatap parni yang berseberangan meja. Parni Masih menampakan
ketidaksukaan terhadap didu kala parni tau didu pergi bersama lelaki itu
ditahun baru tempo hari, bahkan parni melihat dengan matakepalanya sendiri didu
berboncengan dengan lelaki itu.
Didu tak ambil pusing, tak perlu
ia fikirkan sikap tak bersahabat parni terhadapnya. Apapun alasanya, sikap
parni tetaplah menunjukan tak bersahabat.
Tepat jam empat kerjaan didu
selesai sudah, namun bosnya tak tampak juga di kantor. Ah, Mungkin sibos lagi
dilapangan”, fikir didu. Tipikal bos didu nyebelin, selalu saja didu disuruh
inilah,itulah. Kadang yang bukan jadi tanggung jawab didu pun mesti didu
kerjain. Tapi sebenarnya bosnya orang yang baik, supel dan lucu. Kadang didu
merasa ada yang kurang jika bosnya tak tampak dikantor, seperti ada yang bikin
gak rame. Meskipun kadang nyebelin, bos didu tetaplah orang yang baik dan gak
macem-macem. Cum agak sedikit berbeda setelah istri dan anaknya dipulangkan ke
kampungnya di palembang, bosnya lumayan sering ngomel-ngomel dan marah-marah.
Meskipun didu tau gak akan mungkin bosnya marah-marah kalo didu gak melakukan
kesalahan. Apapun itu, didu tetaplah didu.
“didu, kamu mau kemana?” bosnya
tiba-tiba nongol didepan pintu kala didu baru beranjak dari tempat duduknya
untuk pulang.
“pulang pak” jawab didu sambil
cengengesan.
“jam berapa ini sudah mau pulang
aja?” tanya bosnya sambil memeriksa dokumen yang sudah dikerjai didu tadi.
“udah jam empat pak, aku mau
pulang cepat lah pak kali ini, badanku agak gak enak”
“gak enak gimana du?”
“kayak mau demam pak, pilek juga
nih”
“mau biar enak du?”
“apaan pak?”
“minum baygon, bakalan enak terus
gak bangun-bangun, hahaa...”
“ih bapak nih, anak buahnya lagi
sakit juga diledekin. Aku pulang ya pak”
“yasudah pulang lah, nanti tambah
sakit lagi”
Didu berlalu dari bosnya untuk
pulang. Sementara bosnya masih sibuk mengecek hasil kerjaan didu dan
menandatangani dokumen tersebut. Tak lama bosnya pun pulang. Kantor tampak
sepi, hanya menyisakan lelaki itu dikantor yang masih sibuk dengan kerjaanya.
***
Malam semakin larut, bintang
gemerlapan menghiasi temaram malam. Langit tampak cerah, hanya sedikit berawan
namun masih terasa sejuk. Hanya hati didu yang sedang tidak sejuk, malahan
sebaliknya terasa gak jelas. Rintihan jangkrik berbunyi membuat suasana tampak
renik,longlongan anjing hutan makin membuat malam semakin mistik. Meski diluar
sana tampak seram, bintang tak hentinya menghiasi malamnya didu. Lagu sendu diputarnya
untuk menghilangkan galau didada. Malam ini dihabisnkan untuk meredam hasrat
didadanya.
***
Nantikan kelanjutan cerita didu .... hanya di dunia cerita dan cinta
Komentar
Posting Komentar