Hitungan Tanpa Angka Part 3
Didu asyik memainkan ponselnya, sambil ngaca, ngemil dan nonton drama korea. dia lupa kalu sedang dikantor, meski jam istirahat. teramat asyik samapi-sampai tanpa sadar bosnya sudah berdiri disampingnga memperhatikan tingkah konyolnya. karena menggunakan headset, otomatis pendengaranya fokus dengan suara di headset dan tak memperhatikan disekelilingnya.
"aduh pak...ngagetin aja" didu merubah posisi yang tadinya kaki diatas meja dengan leher bertumpu di sandaran kursi.
"kamu ngapain nonton film dikantor didu?, apa di mes masih kurang?"
"iya pak maaf, penasaran sama ceritanya. malas pulang, jadi nonton dikantor deh pak", dengan tanpa beban menjawab dengan polosnya.
"udahan nontonnya, ini udah jam 2, kerja lagi"
"iya pak"
Tak terasa, air mata didu mengalir dengan sendirinya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Suatu perasaan yang tertahan, mengendap deras dalam lelahnya menata hati yang tak mampu lagi membohongi diri. Meski sebenarnya didu masih memiliki pacar yang selalu setia menunggu di kampungnya, tapi kehadiran Kirno seakan menghapus rasa cinta yang pernah bersemayam dalam hatinya untuk sang kekasih.
Ah... lelaki itu memang kurang ajar, dia masuk dalam hati didu tanpa permisi. padahal ruang itu masih berpenghuni, kenapa datang bukan pada saat yang tepat. hati didu kian cemas. Seandainya didu masih sendiri, akan dengan mudah dia membuka ruang itu untuk kirno.
"didu...kamu nangis ya..?" bos didu membuyarkan lamunan didu. didu nampak kaget karena bos nya melihatnya menangis.
"Enggak pak, saya tu sedih liat drama korea tadi. ceritanya mirip kayak yang saya alami pak"
"Emang gimana ceritanya sampe kamu sendu gitu, gak konsen kerja?"
"Ada lah pak, Makanya bapak nonton sendiri. saya males pak ceritanya, nanti sya nangis lagi"
Didu masih menyembunyikan kesedihanya dengan bos nya. Seandainya didu mau cerita perihal yang sebenarnya tentang perasaanya ke kirno, bos nya pasti dengan senang hati membantunya. Toh selama ini bos nya selalu comblangin didu dengan kirno.
"Ah,..gak yakin aku kamu nagis gara-gara nonton drama korea. pasti ada sesuatu"
"Beneran pak, karna dilm itu"
"yasudah, kerja lagi yang bener. itu laporan stock nya ku tunggu. cepetan di prin. tadi pak menejer minta"
"iya pak"
Didu terus mantengin layar monitor, mengerjakan apa yang diperintahkan si bos dengan teliti, tentu dengan hati yang masih gundah gulana.
***
Pagi yang cerah, mentari menyapa dengan senyum yang begitu mengembang. Langit juga tampak tak berawan, mendung menyingkir malu-malu terbawa angin. Pagi ini memang penuh makna. Bunyi lalu lalang kendaraan sudah mulai ramai, Anak-anak sekolah sudah sigap dipinggir jalan menunggu jemputan mobil perusahaan. Tukang sayur sudah membunyikan kalakson, dengan sepeda motor serta keranjang sayur duduk manis di jok motor. Terkada teriak, terkadang hanya membunyikan klason. Tergantung situasi dan kondisi. Jika dengan klakso saja ibu-ibu sudah pada keluar sarang, tak perlu dengan teriakan. Namun jika di Klakson belum pada keluar, teriakan sekencang auman harimau.
"aduh pak...ngagetin aja" didu merubah posisi yang tadinya kaki diatas meja dengan leher bertumpu di sandaran kursi.
"kamu ngapain nonton film dikantor didu?, apa di mes masih kurang?"
"iya pak maaf, penasaran sama ceritanya. malas pulang, jadi nonton dikantor deh pak", dengan tanpa beban menjawab dengan polosnya.
"udahan nontonnya, ini udah jam 2, kerja lagi"
"iya pak"
Tak terasa, air mata didu mengalir dengan sendirinya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Suatu perasaan yang tertahan, mengendap deras dalam lelahnya menata hati yang tak mampu lagi membohongi diri. Meski sebenarnya didu masih memiliki pacar yang selalu setia menunggu di kampungnya, tapi kehadiran Kirno seakan menghapus rasa cinta yang pernah bersemayam dalam hatinya untuk sang kekasih.
Ah... lelaki itu memang kurang ajar, dia masuk dalam hati didu tanpa permisi. padahal ruang itu masih berpenghuni, kenapa datang bukan pada saat yang tepat. hati didu kian cemas. Seandainya didu masih sendiri, akan dengan mudah dia membuka ruang itu untuk kirno.
"didu...kamu nangis ya..?" bos didu membuyarkan lamunan didu. didu nampak kaget karena bos nya melihatnya menangis.
"Enggak pak, saya tu sedih liat drama korea tadi. ceritanya mirip kayak yang saya alami pak"
"Emang gimana ceritanya sampe kamu sendu gitu, gak konsen kerja?"
"Ada lah pak, Makanya bapak nonton sendiri. saya males pak ceritanya, nanti sya nangis lagi"
Didu masih menyembunyikan kesedihanya dengan bos nya. Seandainya didu mau cerita perihal yang sebenarnya tentang perasaanya ke kirno, bos nya pasti dengan senang hati membantunya. Toh selama ini bos nya selalu comblangin didu dengan kirno.
"Ah,..gak yakin aku kamu nagis gara-gara nonton drama korea. pasti ada sesuatu"
"Beneran pak, karna dilm itu"
"yasudah, kerja lagi yang bener. itu laporan stock nya ku tunggu. cepetan di prin. tadi pak menejer minta"
"iya pak"
Didu terus mantengin layar monitor, mengerjakan apa yang diperintahkan si bos dengan teliti, tentu dengan hati yang masih gundah gulana.
***
Pagi yang cerah, mentari menyapa dengan senyum yang begitu mengembang. Langit juga tampak tak berawan, mendung menyingkir malu-malu terbawa angin. Pagi ini memang penuh makna. Bunyi lalu lalang kendaraan sudah mulai ramai, Anak-anak sekolah sudah sigap dipinggir jalan menunggu jemputan mobil perusahaan. Tukang sayur sudah membunyikan kalakson, dengan sepeda motor serta keranjang sayur duduk manis di jok motor. Terkada teriak, terkadang hanya membunyikan klason. Tergantung situasi dan kondisi. Jika dengan klakso saja ibu-ibu sudah pada keluar sarang, tak perlu dengan teriakan. Namun jika di Klakson belum pada keluar, teriakan sekencang auman harimau.
Komentar
Posting Komentar