Senja Tak Pernah Menghianati Malam
Senja menyapa terus berlalu, dalam hitungan jari sudah tak kasat mata. Berganti malam yang mulai sendu, menitik beratkan pada hal yang sulit terlupakan. Terkadang mata menatap tajam, kekalutan tampak semakin dalam. Berurai air mata dalam kekecewaan, Rindu ini untuk apa? Rindu ini untuk siapa?
Wajahku tak nampak lagi, gelap mengiringi malam yang mulai beranjak. Berbisik burung pemangsa alam, gerimis turun perlahan-lahan. Dingin malam mulai menyelimuti tubuhku, kaku seperti air yang beku. Dentuman gelegar petir mulai bersahut-sahutan, kilauan kilat memotret angkasa. Laksana parade Tentara alam yang berkilauan, berhamburan, berdesiran.
Malam terus berlalu, masih saja diiringi gerimis sendu. Berbagai kekalutan mengiringi setiap kedipan mata, lalu dibasahi dengan tetesan air nya. Aku tak tau, apa sebenarnya yang ada dalam benak ku, seperti ingin sesuatu namun tak dapat bisa ku rengkuh. Rasa yang kian laun bagaikan empedu, sakit ku tahan, pahit pun ku telan.
Aku masih termangu, dibawah gerimis yang belum berlalu. Liar nya gelap tak membuatku gagap, dingin nya angin tak membuatku bergeming.Namun aku menyadari, dan ku yakini, Senja tak pernah menghianati malam. Seperti rindu itu, yang sejak dahulu tersimpan rapi dipersada jiwaku. Meski dia jauh meninggalkan kenangan, meninggalkan sekeping hati yang berhamburan, yang sampai kini terus bertahan.






Komentar
Posting Komentar