Ternyata Jatuh itu Sakit
Hidupku penuh dengan liku-liku. Berbagai rasa sudah aku alami. Suka, duka , canda, tangis, tawa, bahagia. Pernah diatas, juga pernah dibawah sampai titik nadir.
Bermula sat aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ku di pulau seberang, Kalimantan. Tanpa dipikirkan masak-masak, tanpa persiapan bekal, tanpa didasari oleh hal-hal yang sangat mendasar. Keputusan yang akhirnya kusesali karena kubuat dengan terburu-buru. Hingga aku terlunta-lunta pasca pulang dari Kalimantan. Pemasukan tak ada, pekerjaan tak punya. Sampai beberapa waktu yang cukup lama hal ini kualami.
Sebenarnya Istriku pun tak setuju ketika aku memutuskan berhenti dari pekerjaan itu, disiisi lain Tak ada jaminan diluar sana tersedia pekerjaan pengganti. Di Kalimantan, istriku sudah merasa nyaman. Memiliki Tetangga yang baik yang sudah seperti saudara, juga karena istriku sudah punya geng sosialita. Merasa berat meninggalkan Kalimantan untuk pulang kampung ataupun pindah kemanapun.
Sebenarnya Istriku pun tak setuju ketika aku memutuskan berhenti dari pekerjaan itu, disiisi lain Tak ada jaminan diluar sana tersedia pekerjaan pengganti. Di Kalimantan, istriku sudah merasa nyaman. Memiliki Tetangga yang baik yang sudah seperti saudara, juga karena istriku sudah punya geng sosialita. Merasa berat meninggalkan Kalimantan untuk pulang kampung ataupun pindah kemanapun.
Aku pulang kampung tanpa membawa hasil. Pulang dengan istri dan seorang putri, aku belum siap hidup mandiri. Aku tak siap dengan kerasnya hidup tanpa pekerjaan. Aku tak siap cibiran kelurga dan tetangga. Mau dikasih makan apa anak istri kalo tidak punya pekerjaan pasti. Hanya itu suara-suara yang ku dengar setiap hari ku.
Puluhan lamaran kerja sudah ku kirim, bahkan mungkin sudah sampai ratusan. Dari mulai kukirim via email, via pos, via titipan kilat, bahkan kuantar langsung ke kantor-kantor yang membuka lowongan kerja. Hanya ada beberapa kali dipanggil untuk interview. Setiap kali interview, selalu saja dengan hasil mengecewakan.
Aku putus asa ditengah banyaknya kebutuhan untuk keluarga kecilku. Tak bisa kubohongi raut wajahku, aku lelah, aku putus asa dengan semua ini.
Setiap kali keputusasaan memenuhi memory otakku, setiap itu juga bayang-bayang anak dan istriku hadir dipelupuk mataku. Menantikan kehadiranku dengan membawa hasil.
Hingga suatu saat ada sebuah supermarket memanggilku untuk wawancara. Aku diterima dengan gaji yang kecil. Tak apa, aku terima aslkan aku dapat memberi nafkah untuk keluargaku. Namun karena pekerjaan yang tak sebanding dengan upah yang ku terima, aku hanya bertahan satu bulan.
Aku kembali menganggur. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, aku rela bekerja jadi kuli terkadang bantu jual burung tetangga yang hobi mikat burung di hutan dengan sistem bagi hasil. Ini bertahan beberapa bulan saja.
Kembali aku dipnggil untuk wawancara kali ini aku diminta jadi sales sebuah merek rokok denga target penjualan mingguan dan bulanan. Aku terima pekerjaan itu yang dahulu kala sangat aku benci. Ya , aku sangat membenci sales-sales apapun. Tapi saat ini aku mengalaminya sendiri. Jiga aku terlalu idealis, keluargaku tak makan, anakku tak bisa minum susu.
Puncaknya salah sat aku kecelakaan. Sewaktu aku pulang dari kantor, Motor yang ku kendarai menabrak minibus yang mengakibatkan kaki kiriku tak dapat untuk berjalan. Selama dua bulan lebih aku tak bisa menafkahi keluargaku, aku terbaring tak berdaya.
Istriku adalah wanita hebat. Istriku adalah wanita kuat. Dia dengan setia merawatku setiap hari, selain juga merawat putri kecil kami. Istriku seperti memiliki dua bayi yang harus dirawat dengan kasih disayang.
Istriku seperti wonder women. Kuat dan menguatkan. Tak kulihat dia berkeluh kesah. Tak terucap dari bibirnya jika dia lelah. Namun aku bisa merasakan, aku bisa melihat raut wajahnya yang kelelahan. Hatinya yang terus menahan sesak kehidupan ini.
Aku tau, dalam hati kecilnya memberontak. Tak kuat menjalani hari-hari yang maha berat. Tapi dia terus bertahan dan menahan semua keperihan hidup ini dengan penuh kesabaran. Merawat ku sampai aku bisa kembali berjalan, dan kembali mencari nafkah.
Akibat kecelakaan itu, aku berhenti bekerja menjadi sales rokok. Ada oknum yang memanfaatkan musibah yang kualami untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya. Menyabotase setiap usahaku, menihilkan setiap pencapaian ku. Oknum tersebut seperti tak suka dengan keberadaan ku di timnya.
Saat aku masih terbaring lemah di rumah, bos ku sempat mengunjungiku sekedar bersimpati atas musibah yang kualami. Semua berkas biaya berobatku yang sudah kukeluarkan dimintanya, dengan tujuan untuk klaim ke kantor. Namun sampai aku sembuh, bahkan sampai berbulan-bulan lamanya tak ada kabar mengenai biaya pengobatan itu.
Terakhir ku dengar, si bos dan tangan kanannya memanipulasi semua data ku. Mulai dari biaya pengobatan ku sampai gaji ku beberapa bulan dimakannya secara pribadi, seperti manusia yang tidak punya otak. Padahal, sejak kecelakaan itu aku tak lagi bekerja dan memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Namun namaku digunakan untuk keuntungan pribadi.
Kabar nya, si bos dan tangan kanannya sedang menjadi buron perusahaan . Ternyata bukan saja keringatku yang dimakan, uang perusahaan juga dimakan. Perusahaan menyadari kerugian yang diakibatkan oleh si bos yang sudah menjadi mantan.
Aku mulai belajar jalan, menggunakan tongkat yang diberi oleh om ku. Belajar ke kamar mandi sendiri, belajar mandi sendiri, semua belajar sendiri untuk meringankan beban istriku.
Sampai disatu hari aku dapat pekerjaan mendadi pengurus koperasi. Meski gajinya tak seberapa, tapi aku masih bisa kerja lain untuk tambahan. Karena memang tidak harus masuk kantor setiap hari.
Perlahan aku menata kebali kehidupan keluargaku. Sedikit demi sedikit semua kembali normal. Aku mulai sembuh total, meski kadang kaki kiriku masih terasa sakit untuk berjalan. Tetapi tak lagi menggunakan bantuan tongkat. Putri kecilku selalu ceria, meski keadaan ayahnya tak sesehat dahulu sebelum musibah kecelakaan.
Dampak lain dari minimnya pemasukan keluargaku,. Istriku memutuskan menerima tawaran untuk mengajar di sebuah SMA negri dekat rumah sebagai tenaga pendidik honorer. Meskipun istriku bukan sarjana pendidikan, tetapi istriku punya ilmu dibidang laboratorium kimia. Meski dengan sedikit terpaksa istriku menerima tawaran itu.
Kami bergantian menjaga putri kecil kami. Jika istriku mengajar, akulah yang mengasuh. Terkadang kubawa ke kantor tempat ku bekerja. Terkadang juga ku titipkan ke ibuku jika memang tak memungkinkan untuk ku bawa.
Semua berjalan normal. Sembil bekerja dikantor, aku bekerja sambilan jadi kuli untuk menambah pemasukan. Badanku yang dulu gemuk bulat seperti Kentung, kemudian kurus kering seperting Aming. Tak apa, asalkan sehat dan keluargaku tercukupi kebutuhan ya. Meski lebih banyak menahan keinginan.
Aku tau, dalam hati kecilnya memberontak. Tak kuat menjalani hari-hari yang maha berat. Tapi dia terus bertahan dan menahan semua keperihan hidup ini dengan penuh kesabaran. Merawat ku sampai aku bisa kembali berjalan, dan kembali mencari nafkah.
Akibat kecelakaan itu, aku berhenti bekerja menjadi sales rokok. Ada oknum yang memanfaatkan musibah yang kualami untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya. Menyabotase setiap usahaku, menihilkan setiap pencapaian ku. Oknum tersebut seperti tak suka dengan keberadaan ku di timnya.
Saat aku masih terbaring lemah di rumah, bos ku sempat mengunjungiku sekedar bersimpati atas musibah yang kualami. Semua berkas biaya berobatku yang sudah kukeluarkan dimintanya, dengan tujuan untuk klaim ke kantor. Namun sampai aku sembuh, bahkan sampai berbulan-bulan lamanya tak ada kabar mengenai biaya pengobatan itu.
Terakhir ku dengar, si bos dan tangan kanannya memanipulasi semua data ku. Mulai dari biaya pengobatan ku sampai gaji ku beberapa bulan dimakannya secara pribadi, seperti manusia yang tidak punya otak. Padahal, sejak kecelakaan itu aku tak lagi bekerja dan memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Namun namaku digunakan untuk keuntungan pribadi.
Kabar nya, si bos dan tangan kanannya sedang menjadi buron perusahaan . Ternyata bukan saja keringatku yang dimakan, uang perusahaan juga dimakan. Perusahaan menyadari kerugian yang diakibatkan oleh si bos yang sudah menjadi mantan.
Aku mulai belajar jalan, menggunakan tongkat yang diberi oleh om ku. Belajar ke kamar mandi sendiri, belajar mandi sendiri, semua belajar sendiri untuk meringankan beban istriku.
Sampai disatu hari aku dapat pekerjaan mendadi pengurus koperasi. Meski gajinya tak seberapa, tapi aku masih bisa kerja lain untuk tambahan. Karena memang tidak harus masuk kantor setiap hari.
Perlahan aku menata kebali kehidupan keluargaku. Sedikit demi sedikit semua kembali normal. Aku mulai sembuh total, meski kadang kaki kiriku masih terasa sakit untuk berjalan. Tetapi tak lagi menggunakan bantuan tongkat. Putri kecilku selalu ceria, meski keadaan ayahnya tak sesehat dahulu sebelum musibah kecelakaan.
Dampak lain dari minimnya pemasukan keluargaku,. Istriku memutuskan menerima tawaran untuk mengajar di sebuah SMA negri dekat rumah sebagai tenaga pendidik honorer. Meskipun istriku bukan sarjana pendidikan, tetapi istriku punya ilmu dibidang laboratorium kimia. Meski dengan sedikit terpaksa istriku menerima tawaran itu.
Kami bergantian menjaga putri kecil kami. Jika istriku mengajar, akulah yang mengasuh. Terkadang kubawa ke kantor tempat ku bekerja. Terkadang juga ku titipkan ke ibuku jika memang tak memungkinkan untuk ku bawa.
Semua berjalan normal. Sembil bekerja dikantor, aku bekerja sambilan jadi kuli untuk menambah pemasukan. Badanku yang dulu gemuk bulat seperti Kentung, kemudian kurus kering seperting Aming. Tak apa, asalkan sehat dan keluargaku tercukupi kebutuhan ya. Meski lebih banyak menahan keinginan.
Komentar
Posting Komentar